INFO PROFIL

Foto saya
JENTREK ROJOIMO WONOSOBO, jawa tengah indonesia, Indonesia
Ya Allah jadikan kami manusia yang bisa keluar dari belenggu “kemunafikan”. Bimbing kami untuk tidak mengoreksi orang lain sebelum diri ini terkoreksi ya Rabb. Jadikan kami manusia yang jujur dan tidak pernah membohongi diri sendiri apalagi orang lain. kepadaMulah kami berserah ya Allah, kepadaMulah kami bermohon karena tanpa kehendakMu kami tidak bisa berbuat apa-apa Affannur Jentrek rojoimo wonosobo . lahir13 Agustus 1989

Rabu, 04 April 2012


I.  Affanoer    
      JUDUL
“PENGARUH PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MEDIA CD ANIMASI TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR DI SMA TAHUN AKADEMIK 2009/2010”

II.          LATAR BELAKANG MASALAH
Sistem pendidikan nasional dewasa ini semakin berkembang sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Kemajuan teknologi juga berpengaruh besar dalam mempengaruhi kemajuan dan perkembangan pendidikan. Upaya peningkatan mutu pendidikan pun terus ditingkatkan agar sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan dan tuntutan akan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu sarana bagi manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia dan merupakan kompenen yang berperan dalam membimbing anak didiknya dalam proses belajar mengajar. Pendidikan harus mampu mengarahkan anak didiknya dalam mencapai proses belajar mengajar yang diharapkan. Belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan untuk membentuk konsep-konsep baru, ide-ide baru dan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman-pengalaman baru sebelumnya. Oleh karena itu pembelajaran harus lebih menekankan pada cara siswa menguasai konsep-konsep fisika yang pokok serta keterkaitannya. Sarana dan prasarana yang tersedia haruslah mendukung untuk mempermudah proses pembelajaran, begitu juga metode dan pendekatan yang digunakan harus tepat sehingga akan mendapat hasil belajar yang lebih baik.
Sampai sekarang masih ada kesan bahwa pelajaran fisika merupakan pelajaran yang sulit. Kesulitan dalam belajar siswa yang terjadi tidak terlepas dari tidak pahamnya siswa terhadap konsep-konsep fisika yang diajarkan. Tidak pahamnya siswa terhadap konsep-konsep fisika bisa diakibatkan karena berbagai macam faktor, diantaranya bisa terjadi karena ketidaktepatan dalam pemelihan pendekatan, metode atau media yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi.
Media pembelajaran merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. Ada berbagai macam media yang dapat digunakan. Penggunaannya meliputi manfaat yang banyak pula. Penggunaan media harus didasarkan kepada pemilihan yang tepat, sehingga dapat memperbesar arti dan fungsi dalam menunjang efektivitas dan efesiensi proses belajar mengajar. Muhammad Ali, (1996: 89) mengemukakan pendapatnya bahwa “media pembelajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (massage), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar”. Pendapat lain juga disampaikan oleh Sadiman, (1996: 6) bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Bentuk-bentuk media digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih konkrit. pembelajaran dengan menggunakan media tidak hanya sekedar menggunakan kata-kata. Dengan demikian, penggunaan media dapat diharapkan dapat meninggkatkan kemampuan kognitif siswa. Media pembelajaran sangat beraneka ragam, yaitu suara (audio), bentuk(visual) dan gerak(motion). Berbagai macam media pembelajaran memberikan bantuan yang sangat besar kepada siswa dalam proses pembelajaran. Namun demikian, peran yang dimainkan oleh guru itu sendiri juga menentukan terhadap efektivitas penggunaan media dalam pembelajaran.
Salah satu media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran sains seperti halnya fisika adalah CD animasi, CD animasi dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran. Dengan CD animasi siswa lebih tertarik dan belajar lebih menyenangkan, sehingga lebih memotivasi siswa dalam belajar. “Sebagai media tutorial, CD animasi memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat sesuai dengan kebutuhan siswa atau anak”(www.e-smartschool.com).
Kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan media sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang beragam. Dalam satu kelas terdiri dari beberapa karakteristik siswa yang berkaitan dengan cara memahami konsep-konsep materi pelajaran, menyerap informasi, mengatur dan memproses informasi, serta mengeluarkan informasi.Dalam memproses informasi terdapat berbagai cara unik yang ditampilkan siswa, sebagian lebih mudah memproses melalui informasi visual, sebagian lagi dengan mudah memproses bila ada suara (auditorial), dan lainnya akan memahami dengan mudah jika melakukannya dengan praktek secara langsung. Pemilihan media pembelajaran hendaknya dapat mengakomodasi kebutuhan siswa, dari satu media pembelajaran diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing siswa berkaitan dengan gaya belajar.
Penggunaan media berpengaruh dalam prestasi belajar siswa yang meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotor dan afektif. “Tidak dapat dipungkiri bahwa sampai sekarang pengukuran kognitif masih diutamakan untuk menentukan hasil belajar seseorang. Sedangkan aspek afektif dan psikomotorik lebih bersikap pelengkap dalam menentukan derajat keberhasilan siswa” (Abu Ahmadi, 2005: 110). Kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, mengingat dan berpikir sangat mempengaruhi hasil belajar.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengajaran fisika dengan media komputer dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Fisika dengan Media CD Animasi Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Ditinjau Dari Gaya Belajar di SMA Tahun Akademik 2009/ 2010”.



III.       IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.      Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang masih sulit dipahami oleh siswa.
2.      Kesadaran minat dan motivasi siswa dalam mempelajari fisika masih rendah.
3.      Ketidaktepatan dalam pemelihan media pembelajaran mengakibatkan prestasi belajar siswa rendah.
4.      Perbedaan kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami informasi yang disampaiakan oleh guru.
5.      Kesulitan dalam belajar siswa yang terjadi tidak terlepas dari tidak pahamnya siswa terhadap konsep-konsep fisika yang diajarkan.

IV.        PEMBATASAN MASALAH
Dengan memperhatikan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      hasil belajar yang diteliti dalam penelitian hanya pada ranah kognitif saja.
2.      pembelajaran yang dilakukan pada kelas eksperimen menggunakan media CD animasi sedangkan pada kelas kontrol menggunakan media power point.
3.      pembelajaran diadakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif ditinjau dari gaya belajar siswa pada konsep fisiska sub pokok bahasan gerak melingkar di SMA.

V.           RUMUSAN PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah terdapat perbedaan kemampuan kognitif siswa yang diberi pembelajaran dengan CD animasi dan yang diberi pembelajaran dengan power point?
2.      Apakah terdapat perbedaan kemampuan kognitif antara siswa dengan gaya belajar audio, visual dan kinestetik?
3.      Apakah ada interaksi antara media pembelajaran dengan gaya belajar siswa?

VI.        TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitaian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan kognitif siswa yang diberi pembelajaran dengan CD animasi dan yang diberi pebelajaran dengan power point.
2.      Untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan kognitif antara siswa dengan gaya belajar audio, visual dan kinestetik?
3.      Untuk mengetahui apakah ada interaksi antara media pembelajaran dengan gaya belajar siswa.

VII.     MANFAAT PENELITIAN
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      memberi informasi tentang pemahaman siswa terhadap konsep-konsep fisika pada pokok bahasan Gerak sub pokok bahasan gerak melingkar.
2.      Masukan bagi pengajar fisika tentang penggunaan media CD animasi dalam pembelajaran fisika.

VIII.  PENEGASAN ISTILAH
Supaya tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan istilah-istilah yang digunakan dalam judul ini maka perlu adanya penegasan istilah. Penegasan istilah dalam judul ini adalah:
1.      Media CD animasi
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang cecara harfiah berarti perantara atau pengantar (Sadiman, 1996: 6), sehingga media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 1096: 6). Pendapat lain juga disampaikan oleh Basuki Wibawa, menyatakan:
Media ialah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan). Dalam proses belajar mengajar, penerima peasan itu adalah siswa. Pembawa pesan (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka. Siswa dirangsang oleh media itu untuk menggunakan inderanya untuk menerima informasi (2001: 12).

Berdasarkan pengertian media di atas maka media CD animasi dalam pendidikan adalah animasi atau simulasi yang dijadikan pengantar atau perantara dalam menyampaiakan pesan pembelajaran serta tujuan yang akan dicapai dari sumber kepada penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat sedemikian rupa sehingga proses belajar yang terjadi dapat berjalan.

2.      Fisika
“Fisika adalah ilmu alam, ilmu tentang zat dan energi seperti panas, cahaya dan bunyi” (Suharso, 2009:141). PK. Barus (1993:4), menyampaikan: “fisika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang mempelajari sifat-sifat dan gejala yang terdapat pada benda mati”.
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahawa fisika adalah ilmu pengetahuan yang bertitik tolak dari keingintahuan tentang gejala alam dan interaksi gejala alam yang dapat diterapkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari yang biasa disebut teknologi.

3.      Kemampuan Kognitif
“Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan dan kekuatan” (Poerwodarminto, 2002:628). Sedangkan “kognitif adalah kegiatan atau proses  memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri” (Suharso,2009:256).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan kognitif adalah kecakapan dalam memperoleh pengetahuan atau mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri.

4.      Gaya Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan pengalaman (Suharso,2009:81). Gaya belajar sendiri meliputi tiga hal yaitu: visual, auditorial dan kinestetik.”siswa dengan gaya belajar visual biasanya mudah untuk menerima informasi atau pelajaran dengan visualisasi dalam bentuk gambar, tabel, peta pikiran tau simbol-simbol. Untuk siswa yang memiliki gaya belajar audio, pembelajaran dilakukan dalam bentuk cerita, lagu atau senandung. Sedangkan siswa dengan gaya belajar kinestetik akan mudah untuk menerima pelajaran yang diiringi dengan aktifitas motorik.

IX.        TINJAUAN PUSTAKA
1.      Pembelajaran
a.       Pengertian Belajar
“Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman” Oemar Hamalik (2009: 36). Sementara Muhammad Ali (1996: 14) menyatakan “belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan”. Dari dua pendapat di atas belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang komplek, sehingga pengertian belajar berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang seseorang. Pengertian belajar banyak dipengaruhi faktor-faktor yang dimiliki seseorang. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai adanya perubahan pada diri seseorang yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti pengetahuan, kecakapan, dan pemahaman sifat serta segala aspek yang ada pada individu.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, pengamatan dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi.

b.      Pengertian Pembelajaran
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran” Oemar Hamalik (2009: 57). Dimyati dan Mujiono (2009: 20) mengemukakan pendapatnya bahwa, “pembelajaran adalah keiatan guru secara terprogram dalam desaian instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan berkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran. Dalam pembelajaran guru harus memahami materi pelajaran yang diajarkan sebagai materi pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. 
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil belajar. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Oleh karena itu pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana pembelajaran siswa” bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancangnya agar rencana pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran.

2.      Media Pembelajaran
a.       Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Sadiman,1996: 6). Sehingga media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengerim ke penerima pesan (Sadiman, 1996,6). Pendapat lain disampaikan oleh Romiszowzki yang dikutip oleh Basuki Wibawa (2001: 12) menyatakan:
Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar, penerima pesan itu adalah siswa. Pembawa pesan (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka untuk menerima informasi.

Sementara muhammad Ali (1996: 89) menyatakan bahwa media pembelajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan (massage), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.
Jadi media pembelajaran adalah suatu sarana pengantar atau perantara yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran serta tujuan yang akan dicapai dari sumber ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat sedemikian serupa sehingga terjadi proses belajar. “Dalam pendidikan diperlukan sekali adanya suatu media pembelajaran karena dalam proses belajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/ media tertentu ke penerima pesan” (Sadiman, 1996: 11).

b.      Aneka Ragam Media Pembelajaran
Media yang beraneka ragam itu dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media adalah:
1.      Jenis kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan. Bahwa tujuan pengajaran itu menjangkau daerah kognitif, afektif dan psikomotor. Bila akan memilih media pengajaran, harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.
2.      Kegunaan dari jenis media itu sendiri. Setiap jenis media mempunyai nilai kegunaan sendiri-sendiri. Hal ini harus dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih jenis media yang digunakan.
3.      Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media. Betapapun tingginya nilai kegunaan media, tidak akan memberikan manfaat ditangan orang yang tidak mampu menggunakannya.
4.      Fleksibilitas (lentur), tahan lama dan kenyamanan media, dalam emmilihmedia harus dipertimbangkan kelenturan, dalam arti dapat digunakan dalam berbagai situasi, tahan lama (tidak sekali pakai langsung dibuang), untuk menghemat biaya, dan digunakan pun tidak berbahaya.
5.      Keefektifan suatu media dibandingkan dengan jenis meda lain untuk digunakan dalam pembelajaran suatu bahan pelajaran tertentu.

c.       Kegunaan Media Pembelajaran
Dalam pendidikan diperlukan sekali adanya suatu media pembelajaran karena “proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/ media tertentu ke penerima pesan” (Sadiman, 1996: 11).
Secara umum kegunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
3.      Dengan menggunakan media pengajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.
4.      Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya dikerjakan sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda.

Muhammad Ali (1996: 92) menyatakan suatu cara dalam langkah-langkah memilih media untuk pembelajaran. Langkah dalam memilih media adalah:
1.      Merumuskan tujuan pengajaran
2.      Mengklasifikasi tujuan berdasarkan domein atau tipe belajar.
3.      Memilih peristiwa-peristiwa pengajaran yang akan berlangsung.
4.      Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa.
5.      Mendaftar media yang akan digunakan pada setiapperistiwa pengajaran.
6.      Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media yang dipakai.
7.      Menentukan media yang terpilih akan digunakan.
8.      Menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut.

3.      Gaya Belajar Siswa
Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian ia mengatur serta mengolah informasi. Terdapat tiga tipe gaya belajar yaitu visual (cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat), audio (belajar melalui apa yang mereka dengar) dan kinestetik (belajar melalui gerak dan sentuhan). Prestasi belajar masih tetap menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar. Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan gaya belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal.
Bahwa setiap siswa memiliki modalitas belajar dan gaya belajar yang berbeda. Dalam pembelajaran, siswa tidak diperkenankan untuk menggunakan gaya belajar yang disukainya. Bila ini dipaksakan, maka siswa yang berbeda kecenderungan dengan yang lainnya, akan merasa dirugikan. Untuk itulah guru harus berupaya mengenali gaya belajar siswa. Terdapat berbagai macam cara mengenal karakteristik gaya belajar siswa, yaitu:
1.      Mengenal gaya belajar siswa dengan bertanya
Diskusi sederhana tentang gaya belajar dan minat sering menjadi cara termudah antara guru dan siswa. Guru dapat menemukan gaya belajar siswa dengan cara mendengarkan suara mereka. Minta instruksi pada siswa bergaya visual, maka dia akan cenderung menggambar peta. Pelajar bertipe audio biasanya tidak suka membaca buku, dia lebih suka bertanya untuk memperoleh informasi. Sedangkan siswa bergaya kinestetik, selalu ingin bergerak.
2.      Mengenal gaya belajar siswa dengan melihat
Ahli NLP (Neuro Linguistik Programming) menyatakan bahwa, “mereka sering bisa mengetahui gaya belajar yang disukai siswa hanya dengan gerakan mata dan mendengarkanperbincangan mereka”. Siswa yang duduk tegak dan melihat lurus ke depan, atau matanya yang memandang ke atas saat menerima informasi, dan jika berbicara cepat, biasanya adalah tipe visual. Seorang siswa yang melihat ke kanan-kiri saat menerima informasi, atau melihat ke bawah, kesisi berlawannya, adalah seorang audiotorial. Sedangkan siswa dengan gaya kinestetik akan banyak bergerak dan kalau berbicara lambat.
3.      Mengenal gaya belajar siswa dengan bahasa tubuh
Untuk menerima informasi, pelajar visual biasanya duduk tegak dan mengikuti guru dengan matanya. Seorang auditorial sering mengulang dengan lembut kata-kata yang diucapkan guru. Sedangkan siswa kinestetik sering menunduk saat ia mendengarkan dan kadang suka bermain-main benda.

4.      Pokok Bahasan Gerak Melingkar
1.      Besaran-besaran Fisis dalam Gerak Melingkar
Dalam gerak lurus dikenal tiga besaran yaitu perpindahan (linier), kecepatan (linier) dan percepatan (linier), sedangkan dalam gerak melingkar adalah perpindahan sudut, kecepatan sudut dan percepatan sudut.
a.      Perpindahan Sudut
Perpindahan sudut adalah perpindahan partikel pada gerak melingkar.
                                                   Satuan SI untuk perpindahan sudut adlah radian                        (rad). Besar sudut θ dalam radian didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak linier (x)                   dengan jari-jari roda (r).
Arah perpindahan sudut yang berlawanan dengan arah perputaran jarum jam bertanda positif, sedangkan yang searah dengan arah perputaran jarum jam bertanda negatif.
Merupakan persamaan yang menghubungkan antara perpindahan linier (x) dengan perpindahan sudut (θ).

b.      Kecepatan Sudut
Kelajuan roda yang berputar biasanya dinyatakan dalam rotasi per menit (rpm), dan disebut kelajuan sudut atau keluan angular. Sedangkan kecepatam sudut atau kecepatan angular adlah kelajuan sudut beserta arahnya.
Kecepatan sudut rata-rata  didefinisikan sebagai hasil bagi perpindahan sudut (Δθ) dengan selang waktu.
Dengan:     = kecepatan sudut rata-rata
Δθ     = perpindahan sudut (rad)
Δt      = waktu (s)
Kecepatan sudut sesaat  didefinisikan sebagai perpindahan sudut dalam selang waktu singkat (Δt→ 0).
             untuk Δt sangat kecil

Hubungan antara kecepatan linier (v) dengna kecepatan sudut (kecepatan Angular).
Dalam gerak melingkar, kecepatan linier (v) didefinisikan sebagai kecepatan untuk mengelilingi suatu lingkaran. Arah kecepatan linier ini selalu menyinggung lingkaran, karenanya disebut juga kecepatan tangensial.
Untuk perpindahan linier Δx sepanjang busur lingkaran, kecepatan linier dinyatakan oleh
           
 (karena
Dengan demikian hubungan antara kecepatan linier (v) dengna kecepatan sudut  adalah:              
Dengan: r = jarak partikel ke pusat putaran.

c.       Percepatan Sudut
Percepatan sudut adalah perubahan kecepatan sudut  pada selang waktu tertentu. Percepatan sudut rata-rata didefinisikan sebagai hasil bagi antara perubahan kecepatan sudut  dengan selang waktu.
Dengan:     = percepatan sudut rata-rata (rad/ s2)
  = perubahan kecepatan sudut (rad/ s)
    = selang waktu (s)
Percepatan sudut sesaat didefinisikan sebagai perubahan kecepatan sudut dalam selang waktu yang singkat.
                         untuk Δt sangat kecil
Dengan:       = percepatan sudut sesaat (rad/ s2)

Hubungan antara percepatan linier dan percepatan sudut
Dalam gerak melingkar, arah percepatan linier (a) menyinggung lingkaran karena itu percepatan linier dinamakan juga percepatan tangensial (at).
Untuk perubahan kecepatan linier Δv dengan selang waktu Δt percepatan tangensial dinyatakan oleh:
               at
                    at
                    at (karena
Dengan demikian, hubungan antara percepatan tangensial (at) dan percepatan sudut (α) adalah: at = rα

2.      Gerak Melingkar Beraturan (GMB)
Dalam gerak melingkar beraturan terdapat beberapa ketentuan, yaitu sebagai berikut:
1.      Besar kecepatan liniernya tetap sedangkan arah kecepatan liniernya selalu berubah.
2.      Besar dan arah kecepatan sudut  selalu tetap.
3.      Percepatan tangensial (at) dan percepatan sudut  sama dengan nol. Ini karena pada GMB tidak ada perubahan besar kecepatan linier (Δv) dan perubahan kecepatan sudut , atau dengan kata lain Δv = 0 dan

a.      Besaran-besaran Fisis dalam Gerak Melingkar Beraturan
1)      Periode Putaran dan Frekuensi Putaran
Periode putaran (T) adalah waktu yang diperlukan untuk menempuk satu kali putaran. Satuan periode adalah detik atau sekon (s). Frekuensi putaran (f) adalah banyaknya putaran dalam selang waktu 1 detik (1 sekon). Satuan frekuensi putaran adlah hertz (Hz).
Hubungan antara periode dan frekuensi dinyatakan dengan:
                  atau

2)      Kecepatan Linier dan Kecepatan Sudut
Kecepatan linier adalah hasil bagi panjang lintasan yang ditempuh partikel dengan selang waktu tempuhnya.
                  atau
Kecepatan sudut adalah hasil bagi sudut pusat yang ditempuh partikel dengan selang waktunya.
                 atau
Jika,  disubstitusikan ke  maka diperoleh:  

3)      Percepatan Sentripetal
Percepatan sentripetal (as) adalah percepatan sebuah benda yang menyebabkan benda tersebut bergerak melingkar. Percepatan sentripetal selalu tegak lurus terhadap kecepatan liniernya dan mengarah ke pusat lingkaran. Untuk partikel yang melakukan gerak melingkar beraturan, percepatan tangensialnya sama dengan nol, tetapi partikel itu masih mengalami percepatan sentripetal as. Percepatan sentripetal ditentukan dengan rumus:
            as atau as

b.      Persamaan Gerak pada Gerak Melingkar Beraturan
Gerak melingkar beraturan adalah gerak suatu benda dengan kecepatan sudut, ω tetap. Dengan demikian, pada GMB kecepatan sudut rata-ratanya sama dengan kecepatan sudut sesaat.
                       
Karena  maka .
Jika pada saat t0 = 0 posisi sudut partikel adalah , jika pada saat t posisi sudut partikel adalah θ, maka
 dan
Dengan demikian:      .

c.       Hubungan Antara Roda-roda
Pada dua roda yang sepusat
1)      Arah putar kedua roda sama
2)      Keepatan sudut kedua roda sama
               ωA = ωB

pada dua roda yang saling bersinggungan
1)      Arah putar kedua roda berlawanan
2)      Kecepatan linier kedua roda sama
vA = vB  atau  rAωA = rBωB

pada dua roda yang dihubungkan dengan belt (sabuk)
1)      Arah putar kedua roda sama
2)      Kecepatan linier kedua roda sama
vA = vB  atau  rAωA = rBωB
3.      Gerak Melingkar Berubah Beraturan (GMBB)
Gerak melingkar berubah beraturan adalah gerak melingkar dengan percepatan sudut  tetap. Jika percepatan sudut searah dengan arah kecepatan sudut (percepatan positif), maka kecepatan sudut partikel makin besar. Sebaliknya jika percepata sudut berlawanan arah dengan arah kecepatan sudut, maka kecepatan sudut partikel makin kecil.
Dalam GMBB, karena percepatan sudut  tetap dan tidak nol, maka partikel akan mengalami percepatan tangensial. Jadi, partikel yang mengalami GMBB mengalami dua percepatan yaitu percepatan sudut  dan percepatan tangensial (at), dimana keduanya mempunyai hubungan.
                        at = r α
Besar dan arah percepatan total berturut-turut dinyatakan oleh
                       

Persamaan gerak pada Gerak Melingkar Berubah Beraturan
a)      Kecepatan sudut pada saat t ditanyakan oleh
b)      Perpindahan sudut dinyatakan oleh
                                   

X.           METODOLOGI PENELITIAN
1.      Waktu dan Tempat Penelitian
a.       Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA 1 Mojotengah Wonosobo kelas X semester 2 tahun akademik 2009/2010.
b.      Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan secara bertahap sebagai berikut:
1.      Tahap persiapan meliputi: Pengajuan judul skripsi, pembuatan proposal dan ijin penelitian.
2.      Tahap pelaksanaan: mencangkup semua kegiatan yang berlangsung di lapangan.
3.      Tahap penyelesaian: analisa data penelitian, penulisan laporan, konsultasi dengan pembimbing an penggandaan.

2.      Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen. Dengan desain faktorial 2 x 3, diambil dua kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan media CD animasi, sedangkan pada kelas kontrol diberi pembelajaran dengan media power point. Setelah akhir pembelajaran diberikan test untuk mengetaui perbedaan kemampuan kognitif siswa yang ditinjau dari gaya belajar siswa dari dua media yang digunakan. 
Desain penelitian dengan rancangan faktorial 2 x 3 sebagai berikut:


Media Pembelajaran (b)
Ekperimen (a1)
Power Point (a2)
Visual        (b1)
a1.b1
a2.b1
Audio        (b2)
a1.b2
a2.b2
Kinestetik  (b3)
a1.b3
a2.b3

3.      Penetapan Populasi dan Sampel
a.       populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA 1 Mojotengah Wonosobo Tahun Akademik 2009/2010.
b.      sampel penelitian
Menurut Sugiyono (2005: 56). “sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristikyang dimiliki oleh populasi”. Dari populasi tersebut diambil 2 kelas sebagai sampel penelitian, yaitu kelas X.A sebagai kelas eksperimen dan kelas X.B sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel menggunakan random sampling.

4.      Variabel Penelitian
Pada penelitian ini variabel-variabel yang terlibat didefinisikan sebagai berikut:
1.      Variabel terikat: kemampuan kognitif siswa
a.       Definisi operasional: kemampuan kognitif adalah kecakapan dalam memperoleh pengetahuan atau mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri.
b.      Skala pengukuran: interval
c.       Indikator: pemberian tes setelah diberikan perlakuan
2.      Variabel bebas:
-         media pembelajaran
-         gaya belajar
a.       Definisi operasional: - media CD animasi adalah salah satu media yang dapat digunakan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
- Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudia ia mengatur serta mengolah informasi
b.      Skala pengukuran: nominal, dengan dua kategori:
1)      Pengajaran dengan menggunakan media CD animasi
2)      Pengajaran dengan power point.

5.      Teknik Pengumpulan Data
Digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan menggunakan test. Test dilakukan dua kali yaitu pretes sebelum diberikan perlakukan dan postes setelah diberikan perlakuan. Postest digunakan untuk menunjukkan kemampuan kognitif siswa pada sub bidang studi fisika, sub pokok bahasan gerak melingkar.

6.      Instrumen Penelitian
Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes. Soal test yang digunakan dalam penelitian harus memenuhi persyaratan dalam hal validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda.
1.      Uji Validitas
“Validitas (kesahihan) adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen” (Suharsini Arikunto, 1998: 160). Semakin tinggi validitas instrumen semakin valid instrumen itu. Valid berarti intrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, (Sugiyono,2009: 121).
Untuk menguji validitas instrumen dignakan rumus Point Biserial, yaitu:
Dengan:
rpbis = Koefien korelasi point biserial
Mp = rerata skor dari subyek menjawab butir soal dengan benar
Mt = rerata skor total
S   = standar deviasi dari skor total
P   = proporsi siswa yang menjawab benar

P = banyak siswa yang menjawab benar/ jumlah seluruh siswa
q = proporsi siswa yang menjawab salah (q=1-p)
dengan ketentuan:
0.8 ≤ pbis ≤ 1.00 = sangat tinggi
0.6≤ pbis < 0.8 = tinggi
0.4 ≤ rpbis < 0.6 = cukup
0.2 ≤ rpbis < 0.4 = rendah
0.0 ≤ rpbis < 0.2 = sangat rendah
Soal dinyatakan valid jika rpbis > rtabel
Soal dinyatakan tidak valid jika rpbis < rtabel dengan taraf signifikan 5%.
2.      Uji Realibilitas
“Realibilitas artinya dapt dipercaya, jadi dapat diandalkan” (Suharsimi Arikunto, 1998: 170). Sehingga soal dinyatakan reliabel apabila hasil pengukuran dengan alat tersebut adalah sama jika pengukuran tersebut dilakukan pada subyek yang sama pada waktu yang sama. Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus KR-20 yaitu:
(Sugiyono, 2009: 132)
Dengan:
r11 = reliabilitas test
k = banaknya butir pertanyaan (item)
S = standar deviasi dari tes
P = proporsi subyek yang menjawab benar (dengan skor1)
                        ∑ pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
Dengan ketentuan:
r11 < 0.20                  : sangat rendah
0.20 ≤ r11 < 0.40       : rendah
0.40 ≤ r11 < 0.60       : agak rendah
0.60 ≤ r11 < 0.80       : cukup
0.80 ≤ r11 < 1.00       : tinggi


3.      Derajat Kesukara
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sukar atau dengan kata lain soal yang baik dengan kategori sedang. Untuk mengukur digunakan rumus sebagai berikut:
Dimana:
P = imdeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab benar
Js = jumlah peserta
Penggolongan derajat kesukaran suatu soal test adalah sebagai berikut:
Soal dengan p; 0.00 ≤ p < 0.30 adalah soal sukar
Soal dengan p; 0.30 ≤ p <  0.70 adalah soal sedang
Soal dengan p; 0.70 ≤ p ≤ 1.00 adalah soal mudah
(Suharsimi Arikunto, 1995: 212)

4.      Daya Pembeda
Daya pembeda soal memberikan gambaran tentang kemampuan butur-butir soal membedakan antar mereka yang berkemampuan tinggi dan mereka yang berkemampuan rendah, ataupun mereka yang berkemampuan pandai dan kurang pandai. Rmus yang digunakan adalah:
Dimana:
D = daya pembeda
Ja = banyaknya peserta kelompok atas
Jb = banyaknya peserta kelompok bawah
Ba = banyaknya peserta kelompo atas yang menjawab soal dengan benar
Bb = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
Penggolongan daya pembeda suatu soal tes adalah sebagai berikut:
D; 0.00 < D < 0.20   : jelek
D; 0.20 < D < 0.40   : cukup
D; 0.40 < D < 0.70   : baik
D; 0.70 < D < 1.00   : baik sekali
D : negatif, semuanya tidak baik
Butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai daya pembeda D 0.40 sampai 0.70.
(Suharmi Arikunto, 1995: 218)

7.      Teknik Analisis data
Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
1.      Uji kesamaan kemampuan awal
Sebelum eksperimen berlangsung, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diuji kesamaan kemampuan awalnya. Untuk menguji kemapuan awal kedua kelompok sample digunakan iji t dua pihak setelah terlebih dahulu diketahui populasi berdistribusi normal dan sample berawal dari populasi homogen.
Sedangkan hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
Ho : Ada perbedaan kemampuan awal antara siswa kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
H1 : Tidak ada perbedaan kemampuan awal antara siswa kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

Adapun teknik uji yang digunakan adalah uji t dua ekor, dengan rumus:
                     

2.      Uji prasyarat analisis
a.       Uji Normalitas
Uji normalitas untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas ini digunakan metode Lilliefors.

b.      Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah populasi mempunyai variansi yang sama atau tidak. Untuk mengujinya digunakan metode Bartlett dengan persamaan:



Dengan menentukan harga-harga:


8.      Pengujian Hipotesis
a.      Uji Analisis Varian Dua Jalan Sel Tak Sama
Data yang terkumpul dianalisis dengan statistik uji anava dua jalan dengan frekuensi sel tak sama.
A      : Media pembelajaran
A1     : Media pembelajaran dengan CD animasi
A2     : Media pembelajaran dengan power point
B       : Gaya belajar siswa
B1     : Gaya belajar siswa visual
B2     : Gaya belajar siswa audio
B3     : Gaya belajar kinestetik

Pengelompokan gaya belajar siswa
1)      Mencari rerata gaya belajar siswa
2)      Mencari standar deviasi
B
A
Total
a1
a2
b1
a1b1
a2b1
B1
b2
a1b2
a2b2
B2
b3
a1b3
a2b3
B3
Total
A1
A2
G

Kriteria
Hipotesis
H01 : αi = 0 ; Tidak ada perbedaan pengaruh antara penggunaan media CD animasi dengan media power point terhadap kemampuan kognitif siswa.
H02 : αj = 0 ; Tidak ada perbedaan pengaruh antara siswa dengan gaya belajar visual, audio dan kinestetik terhadap kemampuan kognitif siswa.
H03 : αk = 0 ; Tidak ada interaksi antara media pembelajaran dengan gaya belajar terhadap kemampuan kognitif siswa.

Komputasi
a)      Komponen Jumlah Kuadrat
(1)   = G2 /pq
(2) = ΣSSij dengan SSij = ΣX2 – C dan C =
(3) =
(4) =
(5) =

b)      Jumlah Kuadrat

c)      Derajat Kebebasan

d)      Rerata Kuadrat

e)      Statistik Uji

f)        Daerah Kritik
FA ≥ Fα ; p-1, N-pq
FB ≥ Fα ; p-1, N-pq
FAB ≥ Fα ; (p-1)(q-1), N-pq
H01 ditolak jika FA ≥ Fα
H02 ditolak jika FB ≥ Fα
H03 ditolak jika FB ≥ Fα

b.      Uji Komparasi Ganda
Untuk mengetahui perbedaan rerata setiap pasangan kolom diadakan uji komparasi ganda dengan metode scheffe, karena metode tersebut akan menghasilkan cacah beda rerata signifikan yang paling sedikit.
Langkag-langkah dalam menggunakan metode scheffe adalah sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi semua pasangan komporasi rerata.
2)      Merumuskan hipotesis yang bersesuaian dengan komparasi tersebut.
3)      Mencari harga statistik uji F dengan rumus sebagai berikut:
Komparasi rerata antara kolom ke-i dan ke-j
4)      Menentukan tingkat signifikansi.
5)      Menentukan daerah kritik (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 
DKi-j = {Fi-j I Fi-j > (q-1) Fα ; p-1; N-pq}
6)      Menentukan keputusan uji.
7)      Menyususn rangkuman analilisis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar