INFO PROFIL

Foto saya
JENTREK ROJOIMO WONOSOBO, jawa tengah indonesia, Indonesia
Ya Allah jadikan kami manusia yang bisa keluar dari belenggu “kemunafikan”. Bimbing kami untuk tidak mengoreksi orang lain sebelum diri ini terkoreksi ya Rabb. Jadikan kami manusia yang jujur dan tidak pernah membohongi diri sendiri apalagi orang lain. kepadaMulah kami berserah ya Allah, kepadaMulah kami bermohon karena tanpa kehendakMu kami tidak bisa berbuat apa-apa Affannur Jentrek rojoimo wonosobo . lahir13 Agustus 1989

Selasa, 18 Mei 2010


Mengukur Kekuatan Cinta
Affannur jentrek rojoimo wonosobo


Manusia mana yang tidak pernah merasakan cinta? Tentu semuanya pernah merasakan. Karena setiap makhluk yang bernyawa, telah ditakdirkan memiliki rasa cinta. Bahkan di fase tertentu, seorang manusia bisa dibuat mabuk dengan indahnya cinta. Dengan cinta, kehidupan di dunia ini dapat menjadi tentram, menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama, sehingga perputaran regenarasi penghuninya berjalan dengan sempurna.
Hingga sampailah kita pada satu kesimpulan, bahwa cinta adalah fitrah manusia. Namun sebagai muslim, tentu kita tak puas sampai di situ. Kita pun lebih tertarik mencari sesuatu yang lebih hakiki, tak berhenti hanya dalam kerangka yang sifatnya materi saja.
Islam telah banyak bicara tentang makna cinta hakiki. Pastinya tak seperti agama cinta ala Anand Krishna, yang belakangan kasusunya santer di media massa. Tapi cinta di sini, tak terhalangi oleh waktu, bahkan mampu menembus batas dari waktu itu sendiri, luar biasa bukan?
Kekuatan dahsyat ini lah yang memberanikan si kecil Ali ra. menggantikan posisi nabi Muhammad Saw. di atas ranjangnya pada malam hijrah. Padahal telah tersiar kabar di kota Mekkah, akan ada konspirasi yang mengerikan. Karena setiap perwakilan kabilah dengan pedangnya yang terhunus, siap mengepung rumah nabi dan menghabisinya di malam itu juga. Namun Ali ra. tak gentar, ia pun berada di atas ranjang nabi tanpa ada rasa khawatir. Tentunya keberanian ini tak lepas dari kuatnya cinta Ali kepada Rasulullah Saw..
Tapi yang perlu diingat, cinta tak ujuk-ujuk datang, ia harus dipupuk secara perlahan. Ibarat pohon yang baru ditanam, ia harus rutin disiram, diberi pupuk dan dirawat. Dengan demikian kelak ia akan tumbuh subur, akarnya kuat menghujam ke bumi, batangnya menjadi kokoh dan dahannya meninggi menjulang ke langit.
Puncak cinta dalam Islam yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits, ternyata hanya ditempati oleh Sang Pemilik Cinta dan makhluk yang paling Ia cintai. Ya, porsi itu hanyalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Karena cinta terhadap keduanya, merupakan kunci yang menyelamatkan hidup manusia, baik itu di dunia mau pun di akhirat.
Melalui lisan mulianya, nabi Muhammad Saw. memberikan bocoran tentang siapa saja dari umatnya yang bisa merasakan manisnya iman. Mengapa harus iman? Ya, karena tanpa iman, mustahil seseorang akan selamat dunia akhirat. Iman pun diibaratkan seperti mutiara, saking berharganya, kehilangannya sama saja seperti mati sebelum waktunya.
Tiga ciri yang disebutkan Nabi itu adalah, pertama, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Kedua, agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah Swt. Ketiga, tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah Swt., sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)
Ibarat keping mata uang, iman dan cinta tak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah hadis lainnya, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kalian, sampai menjadikanku lebih ia cintai dari pada kedua orang tuanya, anaknya dan manusia lainnya”. (HR. Bukhari)
Suatu ketika Umar bin Khatab ra., sahabat nabi yang tegas dan gagah perkasa, curhat kepada Rasulullah. Ia berbicara tentang kualitas cinta dan imannya. “Wahai kekasih Allah, engkaulah yang paling kucintai setelah diriku”.jelasnya. “Tidak, Umar., kecuali setelah diriku lebih engkau cintai ketimbang dirimu sendiri”.jawab Rasulullah. Seketika itu juga Umar meralat cintanya dan kemudian berkata, “Mulai detik ini ya Rasulallah, demi Allah, engkaulah yang paling ku cinta, bahkan melebihi diriku sendiri.” Dan Rasulullah pun kemudian membenarkan keimanan Umar saat itu juga.
Dan sekarang, marilah mengukur kekuatan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Selayaknya sudah tertanam dalam diri kita, keabadian jauh lebih menggiurkan ketimbang hal-hal yang sifatnya sementara belaka. Kalau yang ada di alam hidup ini masih lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka bersegeralah meng-upgrade iman kita. Sehingga kita terhindar dari kategori orang fasik yang disebutkan dalam Al Qur’an.
Allah Swt. telah berfirman, Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At Taubah: 24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar