INFO PROFIL

Foto saya
JENTREK ROJOIMO WONOSOBO, jawa tengah indonesia, Indonesia
Ya Allah jadikan kami manusia yang bisa keluar dari belenggu “kemunafikan”. Bimbing kami untuk tidak mengoreksi orang lain sebelum diri ini terkoreksi ya Rabb. Jadikan kami manusia yang jujur dan tidak pernah membohongi diri sendiri apalagi orang lain. kepadaMulah kami berserah ya Allah, kepadaMulah kami bermohon karena tanpa kehendakMu kami tidak bisa berbuat apa-apa Affannur Jentrek rojoimo wonosobo . lahir13 Agustus 1989

Jumat, 20 Mei 2016

PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR'AN AL-ASY`ARIYYAH Kalibeber,Wonosobo

PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR'AN AL-ASY`ARIYYAH Kalibeber,Wonosobo


PP Tahfidzul Qur'an Al-Asy'ariyah sekarang diasuh oleh KH Achmad Faqih Muntaha.Sebelumnya diasuh oleh ALM KH Muntaha Al-Hafidz.Dan salah satu istri beliau HJ Sahilah masih ada hubungan saudara dengan saya.
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Asy'ariyyah dalam mendidik para santrinya, mengkolaborasikan antara sistem Kholafiyyah(Modern) serta system Salafiyyah (Tradisional) sehingga terjadilah keseimbangan menurut roda perputaran zaman. Sistem tersebut dikenal oleh banyak kalangan masyarakat sebagai sistem semi modrn. Pada sistem pembelajarannya PPTQ Al-Asy'ariyyah menitik beratkan pada tiga komponen sebagai ciri khasnya yaitu : Al-Qur'an Al-Karim (dengan Tahfidzul Qur'annya), kajian Kitab Kuning, serta penguasaan Bahasa Asing (Inggris dan Arab)

JADWAL AKTIVITAS HARIAN SANTRI PUTRA
WAKTU
JENIS KEGIATAN
SANTRI
TEMPAT
KETERANGAN
03.30 – 04.00Qiyamullail & MCKSemua SantriKondisionalFardlu kifayah
04.00 – 04.45Jama'ah SubuhSemua SantriBlok masing-masingWajib
04.45 – 05.30Ta'limul Qur'anSemua SantriMasjidWajib
05.30 – 06.00LuhgotainSemua SantriMasjidWajib
06.00 – 06.30MCK & Sarapan PagiSemua SantriKomplek PonpesMubah
07.45 – 13.30Kegiatan KBM SekolahSemua SantriSekolahWajib
13.30 – 14.00Sholat Dzuhur + MakanSemua SantriKomplek PonpesMubah
14.00 – 15.00IstirahatSemua SantriBlok Masing-masingWajib
15.00 – 15.45Jama'ah Ashar & Ta'limul Qur'anSemua SantriBlok & AulaWajib
15.45 – 17.00
Kegiatan Ekstra Kurikuler
Ngaji Kitab
SMP + SMA
SMP + SMA
Sekolahan
Blok Masing-Masing
Fardlu Kifayah
Wajib
17.00 – 17.45Beli makanSemua SantriKomplek PonpesMubah
17.45 – 18.15Jam'ah MaghribSemua SantriBlok masing-masingWajib
18.15 – 19.00Pengajian TPQ & Setoran Hafalan
SMP & SMA
Mahasiswa
Blok Masing-masing
Ndalem Ustadz
Wajib
Wajib
19.00 – 19.30Jama'ah Isya' & LughotainSemua SantriBlok Masing-masingWajib
19.30 – 20.00Kegiatan DiniyahSemua SantriKomplek PonpesWajib
21.00 – 21.30Wajib BelajarSemua SantriBlok Masing-masingWajib
21.30 - …….Bebas / TidurSemua SantriBlok masing-masingWajib


JADWAL AKTIVITAS HARIAN SANTRI PUTRI

WAKTU
JENIS KEGIATAN
SANTRI
TEMPAT
KETERANGAN
03.30 – 04.00Qiyamullail & MCKSemua SantriKondisionalFardlu kifayah
04.00 – 04.45Jama'ah SubuhSemua SantriBlok masing-masingWajib
04.45 – 05.30Ta'limul Qur'anSemua SantriAulaWajib
05.30 – 06.00Setoran Juz 'AmmaSemua SantriBlok + AulaWajib
06.00 – 06.30MCK & Sarapan PagiSemua SantriKomplek PonpesMubah
07.45 – 13.30Kegiatan KBM SekolahSemua SantriSekolahWajib
13.30 – 14.00Sholat Dzuhur + MakanSemua SantriKomplek PonpesMubah
14.00 – 15.00IstirahatSemua SantriBlok Masing-masingWajib
15.00 – 15.45Jama'ah Ashar & Ta'limul Qur'anSemua SantriBlok & AulaWajib
15.45 – 17.00Kegiatan SekolahSMP + SMASekolahanFardlu Kifayah
17.00 – 17.45Beli makanSemua SantriKomplek PonpesMubah
17.45 – 18.15Jam'ah MaghribSemua SantriBlok masing-masingWajib
18.15 – 19.00Pengajian TPQ & Setoran Hafalan
SMP & SMA
Mahasiswa
Blok Masing-masing
Ndalem Ustadz
Wajib
19.00 – 19.30Jama'ah Isya' & LughotainSemua SantriBlok Masing-masingWajib
19.30 – 20.00Kegiatan DiniyahSemua SantriKomplek PonpesWajib
21.00 – 21.30Wajib BelajarSemua SantriBlok Masing-masingWajib
21.30Bebas / TidurSemua SantriBlok masing-masingWajib
Sumber : http://www.al-asyariyyah.com/p/pondok-pesantren-tahfidzul-quran-al.html

KH A Faqih Muntaha, Pengasuh Pesantren Al-Asya'riah Kalibeber Wafat

KH A Faqih Muntaha, Pengasuh Pesantren Al-Asya'riah Kalibeber Wafat

KH A Faqih Muntaha, Pengasuh Pesantren Al-Asya'riah Kalibeber Wafat
KH. Ahmad Faqih Muntaha (Foto: www.al-asyariyyah.com)
Wonosobo, NU Online
Innalillahi wa Innailahi rajiun, kabar duka datang dari pesantren Al-Qur'an Al-Asyariah Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah. KH Ahmad Faqih Muntaha, pengasuh pondok pesantren yang memiliki nilai historis perjuangan kebangsaan tersebut pada Jumat (20/5) sekitar pukul 19.00 wafat dalam usia 61 tahun, setelah dirawat selama sepekan di rumah sakit Islam Wonosobo akibat menderita komplikasi sakit jantung. 

Menurut penuturan keluarga, sekitar pertengahan April lalu, kiai kelahiran 1955 ini masih menunaikan ibadah umrah. Hanya saja pada saat berada di tanah suci beliau sempat merasakan sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Sebenaranya pasca pengobatan dari tanah suci hingga pulang kembali ke tanah air keadaannya sudah membaik. 

Putra sulung almaghfurlah KH. Muntaha Alhafidz ini meningglkan lima orang putra dan satu putri. Jenazah akan dimakamkan Sabtu pukul 10.00 Wib di pemakaman Desa Karangsari Mojotengah Wonosobo, atau sebelah utara kampus UNSIQ Wonosobo.

Menurut pantauan NU Online, pukul 21.00 Wib jenazah Abah Faqih, demikian para santri memanggilnya, sudah berada di masjid pesantren. Sejak itu secara bergelombang para pentakziah melaksanakan shalat jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir. Sementara para santri dan alumni masih terus membacakan Al-Qur'an di dalam masjid baik secara sendiri-sendiri ataupun bergantian dengan menggunakan pengeras suara.

Di mata para santri, Abah Faqih dikenal sebagai sosok dermawan. Selain itu pengasuh generasi kelima di Pesantren Al-Asyar'iah yang didirikan KH. Muntaha bin Nida Muhammad ini juga merupakan sosok sederhana dan bersahaja meskipun bisa saja bergaya mewah jika mau. Tapi pilihan kemewahan demikian tidak dikehendakinya.  

Menurut salah satu pengurus pondok yang ikut menunggui di rumah sakit selama Abah Faqih menjalani perawatan, sebenarnya pihak rumah sakit telah menawarkan dan memberikan kepada beliau fasilitas dan pelayanan istimewa untuk ditempatkan di kamar pasien dengan kelas VIP, tetapi atas permintaan beliau sendiri justru minta agar ditempatkan di ruang pasien yang standar biasa.

"Sikap demikian (mengambil pilihan sederhana) memang telah menjadi karakteristik dari kepribdian beliau. Seperti itu bukan karena tidak mampu. Sangat mampu, hanya lantaran kepribadian beliau yang memang tidak senang berlebih-lebihan dalam menjalani apa saja," kata Andrei, salah satu ketua Pondok Pesantren Al-Asyariah (M. Haromain/Zunus)   
KH A Faqih Muntaha, Pengasuh Pesantren Al-Asya'riah Kalibeber Wafat
KH. Ahmad Faqih Muntaha (Foto: www.al-asyariyyah.com)
Wonosobo, NU Online
Innalillahi wa Innailahi rajiun, kabar duka datang dari pesantren Al-Qur'an Al-Asyariah Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah. KH Ahmad Faqih Muntaha, pengasuh pondok pesantren yang memiliki nilai historis perjuangan kebangsaan tersebut pada Jumat (20/5) sekitar pukul 19.00 wafat dalam usia 61 tahun, setelah dirawat selama sepekan di rumah sakit Islam Wonosobo akibat menderita komplikasi sakit jantung. 

Menurut penuturan keluarga, sekitar pertengahan April lalu, kiai kelahiran 1955 ini masih menunaikan ibadah umrah. Hanya saja pada saat berada di tanah suci beliau sempat merasakan sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Sebenaranya pasca pengobatan dari tanah suci hingga pulang kembali ke tanah air keadaannya sudah membaik. 

Putra sulung almaghfurlah KH. Muntaha Alhafidz ini meningglkan lima orang putra dan satu putri. Jenazah akan dimakamkan Sabtu pukul 10.00 Wib di pemakaman Desa Karangsari Mojotengah Wonosobo, atau sebelah utara kampus UNSIQ Wonosobo.

Menurut pantauan NU Online, pukul 21.00 Wib jenazah Abah Faqih, demikian para santri memanggilnya, sudah berada di masjid pesantren. Sejak itu secara bergelombang para pentakziah melaksanakan shalat jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir. Sementara para santri dan alumni masih terus membacakan Al-Qur'an di dalam masjid baik secara sendiri-sendiri ataupun bergantian dengan menggunakan pengeras suara.

Di mata para santri, Abah Faqih dikenal sebagai sosok dermawan. Selain itu pengasuh generasi kelima di Pesantren Al-Asyar'iah yang didirikan KH. Muntaha bin Nida Muhammad ini juga merupakan sosok sederhana dan bersahaja meskipun bisa saja bergaya mewah jika mau. Tapi pilihan kemewahan demikian tidak dikehendakinya.  

Menurut salah satu pengurus pondok yang ikut menunggui di rumah sakit selama Abah Faqih menjalani perawatan, sebenarnya pihak rumah sakit telah menawarkan dan memberikan kepada beliau fasilitas dan pelayanan istimewa untuk ditempatkan di kamar pasien dengan kelas VIP, tetapi atas permintaan beliau sendiri justru minta agar ditempatkan di ruang pasien yang standar biasa.

"Sikap demikian (mengambil pilihan sederhana) memang telah menjadi karakteristik dari kepribdian beliau. Seperti itu bukan karena tidak mampu. Sangat mampu, hanya lantaran kepribadian beliau yang memang tidak senang berlebih-lebihan dalam menjalani apa saja," kata Andrei, salah satu ketua Pondok Pesantren Al-Asyariah (M. Haromain/Zunus)   

KH Muntaha Alhafidz WAFAT

KH Muntaha Alhafidz

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Belum lagi kering duka atas musibah kemanusiaan gelombang tsunami di Aceh, India, Srilangka dan negara-negara tetangga lainnya, hari ini duka bertambah: KH Muntaha Alhafidz telah wafat, Rabu, 29 Desember 2004. KH Muntaha Alhafidz adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Asy’ariah, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau adalah guru, ulama panutan, dan orang yang sangat kami cintai.
Membaca berita duka ini, saya sempat terpaku untuk beberapa saat. Berat menahan kelopak mata untuk tidak menumpahkan air mata. Rasa kehilangan dan kegersangan tiba-tiba menyergap ruang batin saya yang paling dalam. Hampa.
Wafatnya KH Muntaha Alhafidz telah meninggalkan ruang kosong dalam diri saya yang mungkin sulit akan terisi untuk jangka waktu yang lama. Guru kami ini, KH Muntaha Alhafidz, berangkat dari takzim dan kecintaan yang mendalam, kami panggil dengan Mbah Mun. Ulama sepuh, karismatik, dan pernah dikhoskan oleh Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.
Sosok Mbah Mun adalah sosok istimewa di keluarga saya. Sejak masih di bangku SMP, yang saya habiskan di kampung sendiri, Abah saya selalu berkata: “Selepas SMP kamu harus ke Kalibeber, ngaji sama Mbah Mun.”
“Kenapa saya harus jauh-jauh mondok ke daerah lereng pegunungan Dieng itu?” bantah saya.
“Kalau kita akan ngaji, carilah guru yang tua, soleh, alim, dan wara’.” Jawab Abah. Waktu itu saya tidak tahu apa makna kriteria-kriteria tersebut.
“Mbah Muntaha ini,” lanjut Abah, “juga seorang penghafal Al Qur’an, Hafidz, yang tidak saja mberkahi, tapi karena saya juga berharap kamu akan menjadi seorang Hafidz kelak.” Saya mengiyakan, dan berangkat. Satu tahun berikutnya kakak saya menyusul. Saya masuk SMA TAQ (Takhasus Al Qur’an), sedang kakak saya masuk IIQ (Institut Ilmu Al Qur’an; sekarang sudah dirubah menjadi UNSIQ, Universitas Sains Al-Qur’an). Tahun-tahun berikutnya menyusul adik-adik saya.

Pada tahun awal kedatangan saya di Kalibeber, kebetulan, Mbah Muntaha sedang mendirikan SMP dan SMA TAQ. Pada tahun-tahun sebelumnya, Mbah Mun baru mendirikan IIQ Jawa Tengah. Respon masyarakat di daerah Wonosobo dan sekitarnya sangat luar biasa. Untuk kelas pertama SMA TAQ saja, angkatan pertama terdaftar sebanyak tujuh kelas, dengan setiap kelasnya tidak kurang dari 45-an siswa. Saya termasuk angkatan pertama SMA TAQ tersebut. SMP TAQ dengan lima kelas. Pada tahun-tahun berikutnya, antusiasme masyarakat semakin tinggi, SMP dan SMA TAQ dijejali dengan siswa baru dari berbagai pelosok Tanah Air. Pada masa itu tidak kurang 16 propinsi tercatat sebagai daerah asal santri.
Setelah beberapa saat di Kalibeber, saya baru bisa memahami kriteria-kriteria yang Abah saya ceritakan. Rupanya, kriteria-kriteria tersebut tercantum di sebuah kitab tentang tata cara dan adab belajar kalangan pesantren, Ta’limul Muta’alim fi Adab al Ta’allum, kriteria yang menjadi patokan para Nahdliyin dalam mengirimkan putra-putrinya ke sebuah pesantren. Dan saya baru tahu, semua kriteria-kriteria yang Abah saya sebut betul-betul semuanya ada pada Mbah Mun.
Selain itu, sifat menonjol Guru kami ini adalah murah hati. Kesejahteraan warga setempat menjadi perhatian khusus Mbah Muntaha. Strategi ekonomi Mbah Muntaha dalam memberdayakan warga telah berhasil. Dengan berduyun-duyunnya ribuan santri yang datang mondok, pelan-pelan, ekonomi warga daerah Kalibeber dan sekitarnya menjadi makin terangkat. Arus uang masuk dari para wali santri ke Kalibeber tidak kemana-mana, tapi ke brangkas warga Kalibeber. Mbah Mun melarang pihak pesantren membuat dapur umum. “Biarkan para santri makan di warung-warung dan di rumah warga, atau memasak sendiri,” ujar Mbah Mun suatu ketika. Ini sifat panutan Mbah Muntaha yang sangat membekas kuat di benak saya: perilaku zuhud, ikhlas dan berkhidmah untuk umat. Dengan makin bertambahnya jumlah penduduk Kalibeber, strategi ini adalah salah satu strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tepat. Sekarang ini, tenaga kerja di daerah tersebut terserap di lembaga pendidikan tersebut. Dulu, ketika penduduk Kalibeber belum banyak, Mbah Muntaha cukup dengan menyantuni saja, dan Mbah Muntaha sendiri mencukupkan diri dengan pesantren khusus penghafal Al Qur’annya yang sederhana, pesantren Al Asy’ariah.
Pesantren Al Asy’ariyah adalah sebuah pesantren tua. Mbah Muntaha merupakan generasi ketiga pemegang pesantren tersebut. Pendiri pesantren ini adalah Kyai Abdurrahman, ulama seperjuangan Pangeran Diponegoro.
Pada saat Diponegoro ditangkap oleh Belanda, para pengikutnya dikejar-kejar, Mbah Abdurrahman berhasil meloloskan diri, dan bersembunyi di lereng pegunungan Dieng –kelak, daerah ini menjadi desa Kalibeber sekarang. Di desa ini Mbah Abdurrahman menyebarkan dan mengajarkan Islam. Akhirnya, ketika para santri mulai berdatangan, cikal bakal pesantren Al Asy’ariyah berdiri.
Generasi kedua pesantren ini diasuh oleh sang putra, Kyai Asy’ari –nama yang kelak diabadikan oleh Mbah Muntaha untuk nama pesantren tersebut. Ternyata, pemilihan nama tersebut, bukan tanpa sebab. Tetapi karena kesan mendalam Mbah Muntaha atas perjuangan Mbah Asy’ari yang gigih membela rakyat dan Islam, terutama dalam konfrontasinya dengan Belanda.
Pada masa kemerdekaan, karena kecintaan Mbah Asy’ari terhadap rakyat dengan advokasi-advokasi kerasnya, dan kecintaannya terhadap kemerdekaan dan Tanah Air, Belanda merasa gerah. Mbah Asy’ari dikejar-kejar. Untuk menghindari penangkapan Belanda, Mbah Asy’ari mengungsi ke daerah lereng terjal pegunungan Dieng yang sangat sulit dijangkau orang, Dero Duwur. Belum sempat kembali lagi ke Kalibeber, Mbah Asy’ari terserang sakit, dan wafat di tempat persembunyian tersebut. Setiap menjelang Ramadhan, sudah menjadi tradisi, para santri Kalibeber diwajibkan untuk napak tilas perjuangan berat Mbah Asy’ari ini, dan sekaligus berziarah ke makam beliau. Bagi saya, tradisi napak tilas ini adalah sebuah tradisi yang sangat bermakna. Pada saat-saat napak tilas tersebut semangat patriotisme seakan-akan meledak. Luar biasa.
Sepeninggal Mbah Asy’ari, sebagai putra tertua, Mbah Muntaha mengambil alih estafet kepemimpinan pesantren warisan Mbah Abdurrahman tersebut, dan dirubah-namakan menjadi Al Asyari’ah. Pesantren ini tetap melanjutkan tradisinya sebagai pesantren penghafal Al Qur’an. Mbah Mun, selain mendapatkan ijazah hafidz dari beberapa kyai ternama pada masanya, juga berguru ke beberapa ulama besar pada zamannya.
Bagi Mbah Mun, seperti yang sering diceritakan kepada kami, saat-saat paling berkesan adalah saat mondok di Kendal. Di pesantren ini, tidak saja diajarkan hidup sederhana, wara’ dan zuhud, tapi juga karena berat perjalanan yang harus di tempuh. Pada suatu masa, untuk bisa mencapai daerah Kendal, dari Wonosobo Mbah Muntaha harus melewati daerah angker Alas Roban, yang masa itu terkenal sebagai pusat perampok. Perjalanan ini dilewati Mbah Mun dengan berjalan kaki. Pada masa lain, Mbah Muntaha juga melewati jalan lain, menerobos pegunungan Dieng, dari lereng sebelah selatan, hingga menembus ke lereng sebelah utara hingga sampai di daerah Kendal. Lagi-lagi, perjalanan dengan berjalan kaki. Sebuah perjalanan yang sangat mengesankan, begitu beliau menggambarkan. 14 tahun silam, kami para santri Kalibeber, putra dan putri, diwajibkan untuk berangkat ke puncak pegunungan Dieng, ribuan santri, berangkat dengan berkendaraan, dan pulang ke Kalibeber berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki, agar merasakan bagaimana masa-masa sulit beliau dalam belajar. Sungguh perjalanan musafir belajar yang melelahkan, dan –satu lagi– mengasyikkan. Di samping itu, pemandangan indah dan keajaiban-keajaiban alam, kawah Si Kidang misalnya, dapat langsung kami saksikan selama napak tilas ini. Kami terpesona dengan kebesaran Allah SWT. Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala ciptaan-Nya.
Dari kacamata tahun 2004, 14 tahun kemudian, masa-masa tersebut betul-betul indah. Sangat mengesankan. Tak terasa waktu 14 tahun bergerak begitu cepat. Pengalaman-pengalaman semacam itu rasa-rasanya baru kemaren berlangsung.
Saya heran, rentang hidup yang sudah cukup lama ini, masa-masa yang hanya berlangsung beberapa tahun di Kalibeber begitu sulit untuk dilupakan. Mungkin ini berkat ketulusan dan keikhlasan Mbah Muntaha dalam mendidik kami. Sifat wira’i dan zuhud Mbah Muntaha begitu membekas di memori saya, sebuah tauladan kesalehan para ulama-ulama sepuh. Bahkan kepenatan belajar dari pagi hingga malam yang tidak ada hentinya, seakan tidak kami rasakan lagi. Saya yakin, sekali lagi, semua ini berkat keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang beliau ke kami.
Di bawah dingin udara gunung, kami dibangunkan jam 4 pagi. Berat, tapi wajib. Salat sunah, dan menunggu salat berjamaah di Masjid pondok. Setiap salat Subuh, dapat dipastikan, imamnya adalah Mbah Muntaha sendiri. Sedangkan untuk salat rawatib lainnya adalah Mbah Mus, adik Mbah Mun.
Satu hal yang bisa saya tandai dari Mbah Muntaha, dalam setiap salat berjamaah Subuh, beliau akan jadi imam, bercelana training, berjubah longgar, berpeci putih, dan sorban bermotif hitam-putih seperti milik Yaser Arafat. Tanda khas lain Mbah Muntaha adalah, jika menjadi imam salat beliau akan secepat kilat, tuma’ninah dalam salat tidak sampai beberapa detik. Tetapi ketika salat sendirian, Mbah Mun akan berlama-lama rukuk dan sujud. Suatu saat seorang tamu iseng bertanya: “Mbah Mun, Panjenengan, kalau jadi imam, kok, begitu cepat. Kenapa?”
Sambil berseloroh, Mbah Muntaha menjawab: “Saya sengaja mempercepat, biar sebelum setan sempat menggoda, kita sudah selesai salatnya.”

Tanpa salat Subuh berjamaah dengan Mbah Mun, saya merasakan, seakan-akan perputaran hari yang akan saya lewati terasa kurang. Bagaimanapun dingin udara pagi pegunungan menusuk tulang, dan serangan kantuk yang sangat hebat, karena kami sering tidur larut malam, untuk salat Subuh berjamaah di belakang Mbah Muntaha seakan rugi untuk ditinggalkan. Saya merasa, itu karena kecintaan kami kepada guru kami tersebut.
Karena kecintaan kami juga, setiap kali mencium tangan Mbah Muntaha, lega rasanya. Seolah-olah ada energi spiritual yang terserap masuk. Saya selalu bergetar setiap kali menjabat tangan itu, tangan dengan arteri menonjol di sana-sini. Bahkan, di kalangan santri beliau, ada semacam kebanggaan tersendiri jika seorang santri bisa menyucup lama tangan beliau, apalagi bisa mencium bolak-balik, bagian atas dan bagian dalam. Jika ada yang berhasil, maka si santri akan berbangga diri setengah berteriak di tengah teman-temannya bahwa dirinya baru saja mencium tangan Mbah Mun bolak-balik. Dan dalam setiap kesempatan, jika ada, kami akan berebut mencium tangan beliau. Tetapi, itu jarang. Apalagi Mbah Mun juga akan segera menarik cepat-cepat tangan beliau. Rasanya, kami ingin selalu mencium, meskipun orang-orang yang berpandangan Islam puritan mengejek itu sebagai kultus, dan karenanya syirik, bid’ah, dan dosa. Tapi kami tidak perduli; kami tidak mencium “tangan” sebenarnya, kami sedang memberikan penghormatan mendalam kepada suatu “otoritas”, dan kami juga sedang menyatakan kecintaan kami kepada pemilik tangan tersebut. Mungkinkah dunia ini tanpa otoritas dan tanpa cinta?
Setelah selesai menjadi imam salat Subuh, Mbah Mun akan segera kembali ke ndalem yang berjarak beberapa meter dari masjid. Lalu, kami mempersiapkan Al Qur’an untuk mengaji langsung dengan beliau. Beliau akan datang lagi ke masjid tak lama kemudian, mengajar. Setiap pagi para santri diajar bahasa Arab dan tafsir. Setengah jam berikutnya, giliran para santri penghafal Al Qur’an menyetor hafalan. Mbah Mun akan duduk di atas kulit bulu domba putih kering, dengan menghadapi meja pendek dan cukup lebar, bersila. Di sekeliling meja itu akan diputari para santri penghafal Qur’an dengan jumlah sekali waktu tidak kurang dari 10 orang. Jika salah seorang santri sudah selesai, santri tersebut akan mundur, dan santri berikutnya segera mengisi tempat kosong yang ada. Menariknya, meskipun dengan 10 orang santri menyetor hafalan dalam satu waktu, Mbah Muntaha bisa saja tahu siapa yang salah, dan bagian ayat mana yang tertukar-tukar. Dalam banyak kesempatan, Mbah Mun menegur bacaan mad yang saya baca kurang panjang. Saya malu. Itu pelajaran buat saya. Saya berjanji pada diri sendiri, jika besuk-besuk mau setor lagi, maka hafalan harus sudah betul-betul ngelothok.
Selesai setoran hafalan santri putra, Mbah Mun segera beranjak menuju ke pengajian santriwati, di dalam asrama putri. Model setoran hafalan Al Qur’annya tidak jauh berbeda dengan para santri putra.
Sehabis pengajian Mbah Muntaha, para santri bergegas untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke Kampus bagi mahasiswa IIQ, ke sekolah bagi siswa SMP dan SMA TAQ, dan bagi santri malas, dia akan kembali tidur pulas. Pemandangan khas pada jam-jam ini adalah, di jalanan Kalibeber menuju kompleks kampus dan sekolah SMP & SMA tampak mengalir ribuan orang dengan baju yang hampir seragam, putih-putih. Mentakjubkan. Indah.
Selain Al Qur’an, pengajaran intensif bahasa Arab sangat digalakkan. Para siswa SMP & SMA, pada sore hari akan digembleng dengan pelajaran ini. Tidak kurang dari seorang kandidat doktor dari Al Azhar, Fahmi Al-Badr, warga Mesir, didatangkan untuk penggemblengan tersebut. Beberapa tenaga pengajar alumni Timur Tengah juga memperkuat barisan ini. Saya merasa amat beruntung pernah belajar langsung dari native-speaker bahasa Arab, meskipun masih berada di tanah Jawa. Pengalaman ini makin melengkapi tekad saya untuk meneruskan tradisi berkelana belajar Mbah Muntaha.
Menjelang Maghrib, semua kegiatan mengajar istirahat. Bagi para santri yang ingin olahraga disediakan sarananya: sepak takraw, bola voli, sepak bola, dan seminggu dua kali pelajaran silat Perisai Diri. Bahkan, untuk Perisai Diri, Mbah Mun setengah mengharuskan kepada para santri untuk mengikuti. Silat, ujar Mbah Muntaha suatu ketika, sangat baik untuk kesehatan jasmani dan rohani. Dan, bagi para santri yang tidak suka berolahraga, inilah waktu untuk sejenak beristirahat. Segelintir santri-santri yang baru beranjak puber bersantai-santai di depan jendela kamar masing-masing, ganjen. Rupanya mereka sedang berpacaran jarak jauh dengan beberapa santri putri, puluhan meter di ujung sana, yang juga sedang ganjen di pintu jendela asrama putri. Anak-anak puber ini, yang ketika paginya begitu fasih membaca Qur’an, saya heran, mendadak menjadi bisu, menggerak-gerakkan jari dan bahasa isyarat lainnya ke arah sosok-sosok ganjen lainnya di ujung sana, santriwati: mengungkapkan cinta lewat bahasa Tarzan. Namun, pada umumnya, beberapa kelompok santri membentuk lingkaran tersendiri, berbicara dari hal paling sepele, soal film dan novel, hingga soal pelajaran dan perbincangan seputar politik dan isu keislaman terbaru. Untuk soal pertama, kebanyakan didominasi anak-anak SMP dan SMA, sedang untuk dua topik terakhir adalah topik pembicaraan mahasiswa IIQ. Diam-diam, saya sering menyelinap diantara kelompok terakhir ini, menjadi pendengar setia. Saya masih ingat, suatu saat diskusi berkisar seputar ide hangat Atho Mudzar: apakah Yerusalem sekarang tempat yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al-Isra, atau bukan. Reaksi para santri beragam. Sebuah diskusi yang sangat hangat.
Setelah menjalankan salat Maghrib berjamaah, para santri akan membentuk lingkaran-lingkaran tersendiri di Masjid. Dengan bimbingan para santri senior, mereka belajar tartil Al Qur’an. Suasana riuh rendah suara bacaan Al Qur’an bergema tidak ada henti-hentinya, sahut meyahut. Di tengah malam dingin lereng gunung Dieng, suasana tersebut membuat makin syahdu. Indah.
Salat Isya’ berjamaah tidak bisa ditinggal, harus diikuti seluruh santri. Selepas itu diteruskan dengan sekolah diniyah. Kelas-kelas dibentuk mengikuti kelas mereka di waktu pagi hari. Tetapi kelas ini bukan barang mati, bagi santri yang sudah merasa cukup bisa, dia diperbolehkan mengambil kelas yang lebih tinggi. Di kelas diniyah ini, berbagai macam kitab kuning diajarkan: Fiqh, Tafsir, Nahwu, Shorof, Akidah, Tasawuf, dan lain-lain. Di kelas ini pula kitab dasar tentang adab belajar para santri diajarkan, Ta’limul Muta’allim. Salah satu isi yang sangat membekas dari kitab ini, kami diajarkan untuk menghormati guru-guru kami seperti halnya kami menghormati ibu-bapak kami. Kami juga diajarkan mencintai guru-guru kami sebagaimana halnya kami mencintai orang tua kami. Sebuah gambaran tradisi belajar & mengajar yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Kelas diniyah ini menyudahi keseluruhan program resmi Al Asy’ariah sehari penuh. Perputaran jadwal yang ketat dan padat. Melelahkan memang, tapi semua itu sirna seketika, karena, sekali lagi, keikhlasan, ketulusan dan rasa sayang Mbah Muntaha kepada kami. Waktu-waktu sisa menjelang malam umumnya dipakai para santri untuk mengulang pelajaran-pelajaran yang seharian tadi diperoleh.
Pelajaran tambahan dalam kategori jadwal permingguan adalah pelajaran khitabah (pidato). Kelas khusus khitabah juga disediakan bagi mereka yang betul-betul ingin menjadi macan podium. Waktu untuk kelas khusus ini adalah seminggu tiga kali, diadakan selepas kelas diniyah. Karena bersifat tambahan, pesertanya sedikit. Hasil pengkaderan kelas khitabah ini, saya lihat, terbukti beberapa teman seangkatan saya sekarang telah menjadi macan podium. Menyesal saya dulu tidak ikut kelas tambahan ini. Waktu itu saya kemana? Mendengkur. Umumnya, unjuk kebolehan berpidato dipertontonkan pada hari Jum’at, di depan ribuan para santri putra dan putri yang berkumpul di aula masjid. Acara ini diadakan selepas salat Isya’. Sesekali acara ini dibuka oleh Mbah Muntaha. Di saat-saat inilah, kami bisa merasakan kedekatan dan rasa sayang Mbah Mun kepada kami. Beliau banyak bercerita tentang hidup dan kehidupan, menambah kuat semangat juang hidup kami. Petuah-petuah beliau sangat menghujam ke lubuk hati terdalam.
Tiga tahun bersama beliau, terasa sebagai masa-masa paling membahagiakan. Kalau saja tidak ingat tugas-tugas belajar lebih lanjut, ingin rasanya berlama-lama menyerap ilmu dan keteduhan, dan terus berada di bawah bimbingan Mbah Muntaha. Karena memenuhi tugas belajar ke Baghdad, Iraq, saya harus meninggalkan Kalibeber dan segala cerita suka dan duka –tentu, ada juga cerita duka, misalnya, wesel sering telat, karenanya saya sering ke warung pinggir pondok untuk “nyatet”, istilah santri Kalibeber untuk ngutang. Apalagi, hafalan Al Qur’an saya baru beberapa juz saja. Berat.
Menjelang keberangkatan ke Baghdad, Abah, kakak dan saya sendiri sowan Mbah Muntaha. Beliau memberi petuah, “Ibarat seperti tembakau, orang yang allamah, kalo tidak hafal Al Qur’an, rasanya kurang ambeg.” Meskipun Mbah Muntaha bukan perokok, tapi beliau tahu persis bagaimana memakai bahasa saya, seorang pemadat rokok berat. “Ambeg” adalah rasa tembakau yang bila dihisap terasa sangat mantap. Dan kata “allamah” sendiri berasal dari kata “alim”, arti: berilmu. Kata “allamah”, secara berseloroh, sering kami maknai dengan “mbah-mbahe pinter”. Bertahun-tahun petuah Mbah Mun ini sulit benar saya wujudkan. Sampai detik ini Al Qur’an saya hancur-hancuran. Beruntung betul kakak saya, dia dapat merampungkan Al Qur’annya di bawah bimbingan langsung Mbah Muntaha, menjadi seorang penghafal Al Qur’an, Alhafidz.
Tahun-tahun terus begulir. Kecintaan saya kepada Mbah Muntaha tidak berkurang. Setiap kali pulang kampung, saya pasti menyempatkan diri datang ke Kalibeber: sowan dan minta doa. Sowan terakhir terjadi setahun lalu. Dengan diantar salah satu pengurus pondok, saya menghadap. Mbah Muntaha gembira melihat saya datang. Tak lama kemudian beliau mendoakan. Doa yang panjang. Saya sulit menangkap isi doanya, karena beliau ucapkan dengan suara lirih. Saya mengamini, khusuk, dan terharu. Tak terasa lelehan air mata mengalir. Bahagia mendapat doa khusus dari orang yang Ikhlas dan dekat dengan Tuhan ini. Saya menggigil. Beberapa kali saya harus mengusap tetesan air mata.
Selesai berdoa, Mbah Muntaha bertanya, “Sampeyan, sekarang masih di India?”
“Betul, Mbah.” Jawab saya dengan penuh rasa hormat, menunduk.
“Waktu saya berkunjung ke Baghdad tiga tahun lalu, berziarah ke makam Sayyidina Ali dan makam Imam Hussain, putranya, kita tidak jumpa. Sampeyan sudah pergi ke India.”
“Inggih, Mbah.” Timpal saya. Seandainya saya masih di Baghdad, saya akan berkhidmah kepada Mbah Muntaha selama di sana, mengantar dan membantu beliau, ungkap saya dalam batin.
“Ini ada makanan. Yang ada cuma ini.” Ujar beliau sambil menyodorkan kue bolu warna merah kepada saya dan kepada teman pengantar saya, seorang santri senior. Padahal, saya melirik, di ruang tersebut tergeletak banyak toples untuk para tamu dengan segala macam jenis kue. Saya tidak tahu kenapa Mbah Mun bilang “cuma ini”.
“Tolong, ambilin gelas di bawah itu.” Tunjuk Mbah Muntaha, meminta pada pengurus pondok tadi untuk mengambilkan. Saya lihat ada dua gelas kosong di bawah tempat air Aqua tidak jauh dari kursi beliau.
“Isi gelas dengan Aqua itu, dan minumlah.”
Kami berdua meminumnya. Lega rasanya. Tenaga kami seakan-akan mendadak bertambah. Kedamaian menyusup pori-pori tubuh. Bahagia. Mbah Mun bercerita lumayan panjang pengalaman perjalanan beliau ke Iraq dan Cina. Beliau seakan-akan sedang mengajari kami untuk banyak-banyak melihat kebesaran ciptaan Allah di muka bumi.

Kami pamit. Masih hangat di ingatan, untuk kesekian kali saya meneteskan air mata saat memegangi tangan lembut junjungan kami tersebut. Saya menyucupnya lama, lama sekali. Kali ini Mbah Muntaha tidak lekas buru-buru menarik tangannya. Beliau membiarkan saya mengungkapkan rasa cinta saya dengan mencium berlama-lama.
Saat berpisah, rasanya berat kaki melangkah keluar dari ruang tamu tersebut. Saya masih terbawa oleh perasaan saya sendiri, terdiam. Tapi, teman saya tadi menepuk dengan riang. Saya heran, kenapa dia begitu gembira selepas kami pamitan dengan Mbah Muntaha.
“Tahukah, sampeyan, ini pengalaman pertama saya.” Ujar teman saya tersebut.
“Saya diberi oleh Mbah Mun, daharan beliau sendiri. Dan gelas yang tadi kita minum adalah gelas yang dipakai oleh Mbah Mun pribadi.”
“Pertanda apa ini?” Lanjutnya berbinar-binar.
Saya sendiri hanya terdiam. Saya sukar menangkap apa maksud ucapan dia, karena saya masih terbawa oleh perasaan sendiri. Apalagi, tidak lama lagi saya harus kembali ke India, dan saya tidak tahu kapan akan bertemu Mbah Mun lagi.

Berita tentang wafatnya Mbah Muntaha menggenapkan sudah ketakutan saya: Kapan saya bisa bertemu dan mencium lagi tangan mberkahi Mbah Mun itu? Saya sedih. Kini, kyai yang kami cintai itu telah pergi meninggalkan kami semua. Rasa-rasanya momen-momen kehidupan kami besama Mbah Mun tak akan tergantikan lagi, tak akan terulang kembali. Tapi, ingatan itu akan tetap bersama kami. Mbah Mun telah pergi, tapi Mbah Mun juga tetap tinggal dalam hati kami sebagai kenangan yang tak terhapuskan.
Allahumman-syur nafahatir ridlwani ‘alaihi
Wa amiddana bil asraril lati auda’taha ladaihi.

Ditulis oleh: Rizqon Khamami at 08:09 Friday, December 31, 2004

PPTQ Al-Asy'ariyyah

PPTQ Al-Asy'ariyyah

PPTQ Al- Asyariyyah, satu-satunya lembaga pendidikan di Kota Wonosobo Asri yang fokus pada pendalaman ilmu Al-Qur'an namun juga tetap mengikuti perkembangan zaman dengan menyediakan pendidikan formal mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi.
Berbagai spesifikasi kajian ilmu agama bisa secara bebas dipilih oleh kalangan santri sebagai wujud kebebasan dalam memilih sekaligus pembelajaran yang selalu ditanamkan oleh Abah Faqih selaku pengasuh.

Sejarah Berdiri
A.    Periode Pertama; K. Muntaha bin Nida' Muhammad (1832-1859)

Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro ditangkap atas tipu daya Belanda di Magelang termasuk para pengawalnya juga dilucuti. Diantara prajurit pengawalnya yang sempat meloloskan diri dari kejaran Belanda adalah Raden Hadiwijaya dengan nama samaran KH. Muntaha bin Nida' Muhammad. Pada tahun 1832 KH. Muntaha tiba di Desa Kalibeber yang waktu itu sebagai ibu kota Kawedanan Garung. Beliau diterima oleh Mbah Glondong Jogomenggolo, beliau mendirikan Masjid dan Padepokan Santri di Dusun Karangsari, Ngebrak, Kalibeber, dipinggir Sungai Prupuk yang sekarang dijadikan makam keluarga Kyai.

Ditempat ini beliau mengajarkan agama Islam kepada anak-anak dan masyarakat sekitar. Ilmu pokok yang diajarkan adalah baca tulis Al-Qur'an, Tauhid, dan Fiqih. Dengan penuh ketekunan, keuletan dan kesabaran, secara berangsur-angsur masyaraat Kalibeber dan sekitarnya memeluk agama Islam, atas kesadaran mereka sendiri. Mereka meninggalkan adat-istiadat buruknya seperti berjudi, manyabung ayam, minum khomr, dll.

Karena Padepokan Santri lama kelamaan tidak mampu menampung arus santri dan terkena banjir sungai Prupuk maka kegiatan pesantren dipindahkan ketempat yang sekarang dinamai Kauman, Kalibeber. Sedangkan yang tinggal di Padepokan baru yang tidak mau secara sukarela memeluk Islam, atas kemauan sendiri banyak yang meninggalakan kampung itu. Daerah selatan pesantren yang semula dihuni oleh Etnis China akhirnya ditinggalkan penghuninya, dan nama Gang Pecinan sampai sekarang masih dilestarikan. K. Muntaha wafat pada tahun 1860, setelah 26 tahun memimpin pesantren. Beliau digantikan oleh putranya KH. Abdurrochim bin KH. Muntaha.

B. Periode ke-Dua; KH. Abdurrochim (1860-1916)
Mulai tahun 1860, KH. Abdurrochim bin KH. Mutaha menerima estafet tugas mulia memimpin pesantren dari ayahnya. Beliau adalah seorang Kyai yang ahli dalam bidang pertanian dan tidak suka berpolitik praktis. Beliau juga ahli Tasawuf. Sejak mudanya beliau telah dipersiapkan untuk meneruskan perjuangan menyiarkan Islam dan memimpin pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Kyai Abdullah bin KH. Mustahal Jetis, Parakan, Temanggung, bahkan beliau dijadikan menantunya. Dibawah asuhan KH. Abdurrochim pesantren semakin maju. Satu hal yang sangat menarik dari Al-Maghfurllah KH. Abdurrochim adalah keahliannya dalam menulis Al-Qur'an. Sehingga ketika beliau pergi berhaji selama dalam perjalanan beliau menulis Qur'an dengan tangan Beliau sendiri sampai ketika beliau tiba di Kampung halaman penulisan Al-Qur'an tersebut dapat selesai sempurna 30 juz. Peristiwa bersejarah inilah yang nantinya menjadi sumber inspirasi bagi cucu Beliau yaitu Al-Maghfurllah KH. Muntaha Alh untuk membuat Al-Qur'an raksasa, yang menjadi Al-Qur'an terbesar di dunia. Dalam memimpin pesantren beliau masih melestarikan sistem dan materi pendidikan peninggalan ayahandanya. Bertepatan pada tanggal 3 Syawal 1337 H atau 1916 Masehi, KH. Abdurrochim dipanggil yang Maha Kuasa dan dimakamkan dibekas komplek Pondok Karangsari, Ngebrak. Sepeninggalan Beliau, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya KH. Asy'ari bin KH. Abdurrochim.

C. Periode ke-tiga; KH. Asy'ari bin KH. Abdurrochim (1917-1949)

KH. Asy'ari mempunyai 2 saudara yaitu; KH. Marzuki dan Nyai Hj. Maemunnah (istri KH. Syuchaimi dari Malaysia). Beliau mempunyai wiridan rutin membacaDalailul Khoirot kemanapun beliau pergi selalu membawa kitab tersebut. Beliau mempunya dua istri yaitu Nyai Hj. Safinah (Ibu kandung Al-Maghfurllah KH.Muntaha) dan Nyai Hj. Supi'ah (Ibu kandung KH. Mustahal Asy'ari).

KH. Asy'ari pernah nyantri di Krapyak Yogyakarta dan ketika itu Beliau diajak oleh KH. Munawwir untuk mengikuti (ndere'ake) menuntut ilmu di Mekkah selama + 17 tahun. Pada saat nyantri di Mekkah inilah Beliau rutin membaca Al-Qur'an, bahkan setiap hari bisa khatam. selain itu Beliau juga pernah nyantri di Sumolangu, Kebumen, dan Termas Pacitan. Beliau meneruskan kepemimpinan Ayahandanya. Pada masa itu Indonesia telah melahirkan gerakan-gerakan Nasional, baik yang berdasarkan agama maupun kebangsaan. Pada tahun-tahun terakhir kehidupan beliau, Indoneia sedang gigih-gigihnya menentang kembali penjajahan Belanda oleh karena itu pesantren mengalami masa surut sebagian santrinya ikut dalam geriliya melawan Penjajah.

Pada aksi Polisionil kedua (Agresi Militer Belanda II) itu Belanda menyerang wilayah Wonosobo bahkan sampai ke Desa Dero Ngisor + 5 Km dari Kalibeber kesebalah barat. Pondok Pesantren pun tak luput dari amukan Belanda bahkan Al-Qur'an tulisan tangan Al-Maghfurllah KH. Abdurrochim ikut dibakar. Sementara itu KH. Asy'ari yang sudah lanjut usia terpaksa mengungsi ke Dero Duwur + 8 Km dari Kalibeber. Ternyata Belanda tidak berani meneruskan pengejaran Ulama' ini sampai ketempat pengungsian. Dalam pada itu beliau sedang sakit keras dan kemudian wafat dalam pengungsian dan dimakamkan disana pada tanggal 13 Dzulhijah 1371 H/ 1949 M.

Menurut satu sumber yang dapat dipercaya (saksi sejarah yang masih hidup) termasuk dari satu keistimewaan Beliau adalah suatu ketika masjid dan pondok pesantren di bom oleh Belanda namun berkat doa beliau bom tersebut tidak meledak, malah berubah menjadi Singkong (Bodin- Bahasa Kalibeber red). Satu hal yang perlu dicatat bahwa wafatnya KH. Asy'ari teleh menyiapkan putra-putranya untuk kaderisasi kepemimpinan. Seluruh putranya dikirim ke berbagai pondok pesantren satu diantara putranya ialah KH. Muntaha Alh bin KH. Asy'ari

D. Periode ke-empat
1. KH. Muntaha Al-Hafidz bin KH. Asy'ari

KH. Muntaha Alh atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Munt adalah seorang Ulama' legendaries, dan Kharismatik. Beliau dijuluki sang Maestro Al-Qur'an. Dibawah kepemimpinan Beliau inilah Al-Asy'ariyyah menemui kemajuan yang sangat pesat, dengan pertambahan santri yang menjadi ribuan dan juga pertambahan lembaga-lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Al-Asy'ariyyah. Dan dengan satu karya yang sangat fenomenal yaitu : Al-Qur'an Akbar (Al-Qur'an terbesar di Dunia) yang kini disimpan di bait Al-Qur'an Taman Mini Indonesia indah (TMII).

Beliau adalah sosok ulama' yang juga pandai berpolitik, semasa masih muda beliau pernah menjadi anggota konstituante dari fraksi NU, tetapi beliau bukanlah politisi. Garis Politik beliau adalah mengutamakan kemaslahatan umat dari pada sekedar kepentingan/ambizi pribadi. Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan, Beliau pernah ikut pertempuran di Palagan Ambarawa sebagai Komandan BMT (Barisan Muslim Temanggung). Mbah Munt adalah seorang Ulama' yang serius dan kreatif, sederhana, pemurah, dan seorang pribadi yang berakhlakul karimah. Orang-orang menyebutnya berhati Segara (laut), hatinya bagai samudera luas dan seperti air, setinggi apapun tempatnya air mengalir kearah dan tempat yang lebih rendah.

Dalam perjuangan memasyarakatkan Al-Qur'an, beliau mendirikan Yayasan Himpunan Penghafal Al-Qur'an dan dan pengajian Al-Qur'an. (Jama'atul Qur'an wa Diraasat Al-Qur'an atau YJHQ) yang menghimpun para hafidz-hafidzah se-Kabupaten Wonosobo. Beliau sering menasihati murid-muridnya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an minimal seminggu sekali. Beliau juga penyusun Tafsir Maudlu'i yang kini berjudul Tafsir Al-Muntaha.

Beliau adalah hamba Allah dalam arti yang sebenarnya. Dalam zuhud dan taqwa beliau telah sampai pada maqam ma'rifat, keyakinan hatinya begitu tinggi sehingga seluruh hidupnya penuh dengan ketaatan kepada Allah SWT. Jiwa dan makna ma'rifat beliau berbeda sekali dari sikap hidup para zahid yang menjauhi dunia. Sebaliknya Irfan atau daya ma'rifat Mbah Muntaha adalah irfan yang positif dan dinamis, yakni penuh perhatian dan pemahaman terhadap masalah-masalah di sekitarnya. Banyak wali yang hidup zuhud dan menjauhi dunia. Tetapi Beliau adalah wali yang Zahid dan membangun dunia.

Sejak pondok pesantren dipimpin oleh Al-Maghfurllah KH. Muntaha Alh, maka berbagai langkah inovativ dan pengembangan mulai dilakukan diberbagai aspek. Sehingga jika sekarang kita melihat perkembangan pesantren ini tida lain adalah karena jasa dan perjuangan beliau. Langkah pengembangan tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Pengembangan itu antara lain dalam masa-masa awalnya, pesantren pesantren yang lebih mnegkhususkan pada pengkajian dan hafalan Al-Qur'an masih tetap dipertahankan bahkan lebih dikembangkan lagi. Sehingga dalam waktu tidak lama jumlah santripun bertambah banyak.

2. KH. Mustahal Asy'ari bin KH. Asy'ari
Apabila kita membicarakan KH. Muntaha, Alh maka tidak akan berpisah dari tokoh pendampingnya yaitu KH. Mustahal Asy'ari (Adik Beliau). Beliau dilahirkan pada tahun 1926 + 14 tahun lebih muda dari KH. Muntaha. Beliau mengawali menuntut ilmu dibawah bimbingan langsung dari ke-dua orang tuanya sendiri. Kemudian beliau mesantren pertama kali kepada Syech KH. Muntaha Parakan Temanggung pada tahun 1946 selama 1 tahun. Kemudian beliau meneruskan nyantri di Lasem dari tahun 1947 sampai dengan 1951.

Setelah itu beliau memperdalam ilmu di Pondok Pesantren Al- Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan langsung KH. Munawwir, Alh selama 3 tahun. Selama mesantren beliau "Tirakat" dengan tidak pernah makan nasi selama 13 tahun. Setelah dirasa cukup beliau pulang kerumah untuk membantu dakwah memperjuangkan syari'at islam di Kampung halamannya, Dengan mengawali mendirikan TK dan MI Ma'arif. Pada tahun 1958 beliau melaksanakan sunah Nabi SAW yaitu melangsungkan pernikhan dengan Nyai Tisfiyyah dari Kertijayan, Buaran, Pekalongan. Dari pernikahan ini dikaruniai 6 Orang putra yaitu : Mustaqimah, Masudan Asy'ari, Atho'illah Asy'ari, Mukarromah, Muhammad Muhlis dan Affan Mastur.

Beliau pernah menjabat sebagai Ketua NU, Ketua Fatayat, Ketua Muslimat, Dan Ketua GP Anshor Cabang Wonosobo. Disamping itu beliau adalah sebagai pegawai KUA. Beliau juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Wonosobo pada tahun 1961-1966. hal yang sangat patut di teladani oleh para santri adalah ke-istiqomahan beliau, salah satunya ialah dalam hal sholat 5 waktu. Sampai sekrang beliau masih aktif menjadi imam harian di Masjid Baiturrochim.

E. Periode ke-Lima (sekarang) KH. Achmad Faqih Muntaha
Beliau adalah putra sulung KH.Muntaha Alh dari istri yang bernama Nyai Hj Maiyan jariyah, lahir di Kalibeber pada tanggal 3 Maret 1955. beliau akarb dipanggil dengan Abah Faqih. Beliau mempunyai 5 putra dan 1 putri yaitu ;
1. H. Abdurrohman Al-Asy'ari, Alh, S.H.I
2. H. Khairullah Al-Mujtaba, Alh
3. Siti Marliyah
4. Nuruzzaman
5. Fadlurrohman Al-Faqih
6. Ahmad Isbat Caesar

Putra-putri beliau sudah ada yang menyelesaikan pendidikan baik formal maupun non formal, baik S1 maupun tahfidzul Qur'an dan juga pondok pesantren. Bahkan putra beliau yang pertama dan kedua adalah alumnus Yaman "Ribat ta'lim Khadzral maut" dibawah asuhan Habib Salim As-Satiri

1. Riwayat Pendidikan
Beliau menjalani masa kanak-kanak dibawah asuhan langsung dari Almaghfurlah KH. Muntaha Alh. Selain itu beliau juga sekolah formal di SD Kalibeber, sedangkan SMP di Wonosobo yang kemudian melanjutkan di STM juga di Wonosobo setelah selesai sekolah formal bilau dikirim untuk belajar di pesantren seperti kebayakan gus-gus yang lain. Pada tahun 1973 beliau nyantri di Pondok pesantren termas Pacitan dibawah asuhan KH. Chabib Dimyati, sampai tahun 1978. kemudian beliau pindah ke Krapyak yang pada waktu itu diasuh oleh beliau KH. Ali Maksum (juga termasuk salah satu teman seperjuangan Simbah Muntaha Alh) selama 1 tahun. Selanjutnya beliau nyantri lagi di Buaran Pekalongan kepada Al-Mukarrom KH. Syafi'I yang juga terkenal sebagai salah satu teman seperjuangan Al-Maghfurllah Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz. Setelah itu pada tahun 1980 beliau pulang ke Kalibeber yang dilanjutkan dengan nyantri di kaliwiro kepada seorang kiyai yang terkenal dengan panggilan Mbah Dimyati. Belum genap satu tahun beliau kemudian melaksanakan akad nikah dengan salah seorang santri kalibeber yang bernama Shofiah binti KH Abdul Qodir Cilongok Banyumas, kendati beliau telah melangsungkan pernikahan, namun bukan berarti akhir dalam menuntut ilmu, karena beliau masih tetap nyantri dengan Mbah dimyati di Kaliwiro selama kurang lebih satu tahun. Ketika di kaliwiro inilah beliau mendalami kitab-kitab yang besar antaralain : Shoheh Bukhori, Shoheh Muslim, Ihya' Ulummuddin, Tafsir Al-Munir, dan lain-lain. Kemudian beliau mukim membantu perjuangan Ayahanda beliau yaitu Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz(Alm). Selama masa nyantri tersebut beliau mempunyai hobi yang sangat unik yang sama dengan hobinya Gus Dur yaitu Ziarah Qubur, beliau juga terkenal sebagai santri yang mempunyai dedikasi dan disiplin yang tinggi dan selalu mentaati peraturan (Qonun) pondok pesantren yang ada walaupun beliau adalah putra seorang Ulama besar yang kharismatik.

2. Perjuangan Pendidikan 
Setelah pulang dari pesantren (Mukim pada tahun 1980) beliau aktif membantu mengajar di Pondok pesantren milik Ayahandanya dan ikut perkecimpung dalam masyarakat. Waktu itu santri di kalibeber baru sekitar 50 orang putra dan putri dengan prioritas Tahfidzul Qur'an (menghafal A-Qur'an) dan menggunakan sistem salafy. Pertama kali beliau mengajar pada santrinya yaitu kitab "Burdah" yang bertempat di masjid Baiturrochim. Selain mengajar pada santri beliau juga mengajar Diniyah ba'da dzuhur untuk orang kampung yang waktu itu bertempat di MI Ma'arif. Adapun kitab-kitab yang pernah beliau khatamkan antaralain adalah ; Taqrib, Bidayatul Hidayah, Sulamuttaufik, Safinah, dll sedangkan untuk ilmu nahwu diampu oleh teman beliau yaitu Bp H. Quraisyin.
 
Disamping mengajar, beliau juga ikut aktif dalam mendirikan lembaga-lembaga formal antara lain : SMP, SMA, SMK Takhassus Al-Qur'an dan IIQ (Sekarang UNSIQ). Beliau juga meneruskan cita-cita ayahanda beliau yang belum terealisir diantaranya; SD Takhassus Al-Qur'an, Darul Aitam, Menara Masjid Baiturrochim, dan gedung baru Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah. Beliau juga mendirikan kelas jauh diantaranya adalah : SMA Takhassus Al-Qur'an di Kepil, SMP + SMA Takhassus Al-Qur'an di Ndero duwur plus Pondok pesantren tanpa pemungutan biaya, Pondok Pesantren + SMA dan SMP Takhassus Al-Qur'an di Kalimantan barat, SMP TAQ Di Majalengka, di Tumiyang Purwokerto, di Buntu Banyumas, serta di Baran Gunung Ambarawa, dan masih banyak lagi. Satu cita-cita beliau yang belum terrealisasi adalah menjadikan Kalibeber sebagai "Semacam Vatikan" di Indonesia. Dimana nanti setiap fatwa dari kalibeber akan di patuhi oleh semua pemeluk islam diseantereo Nusantara.

3. Perjuangan Organisasi
Dalam bidang organisasi beliau aktif di Mabarot. Dan selanjutnya aktif di Tanfidziyah Ranting kalibeber, sekretaris MWC Mojotengah. Tercatat mulai Tahun 1996 sampai sekarang beliau aktif sebagai Mustasyar NU cabang Wonosobo. Dulunya Beliau juga aktif dalam partai politik antara lain P3, Golkar dan PKB. Namun demi kemaslahatan umat mulai tahun 2004 hingga sekarang beliau netral. Selain itu beliau juga menjadi salah satu sesepuh di Kalibeber bahkan diWonosobo beliau termasuk salah satu Kiyai yang paling disegani. {po}

Sumber: http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=229

PROFILE PENGASUH PONDOK PESANTREN AL AS'ARIYAH KALIBEBER WONOSOBO

PROFILE PENGASUH


1. Periode Pertama, K. Muntaha (1832 – 1859)

Pada tahun 1839 P. Diponegoro ditangkap atas tipu daya Belanda di Magelang dan melucuti para pengawalnya. Di antara prajurit pengawalnya yang sempat meloloskan diri dari kejaran Belanda adalah R. Hadiwiyaja dengan nama samaran KH. Muntaha bin Nida Muhammad.  Pada tahun 1832 Kyai Muntaha I tiba di desa Kalibeber yang waktu itu sebagai ibu kota Kawedanan garung. Beliau diterima oleh Mbah Glondong Jogomenggolo. Atas petunjuk Mbah Glondong Jogomenggolo, beliau mendirikan masjid dan padepokan santri di dusun Karangsari Ngebrak Kalibeber, di pinggir Sungai Prupuk yang sekarang dijadikan makam keluarga Kyai.

Di tempat ini beliau mengajarkan agama Islam kepada anak-anak dan masyarakat sekitar. Ilmu pokok yang diajarkan adalah baca tulis Al-Qur'an, tauhid dan Fiqih. Dengan penuh ketekunan, keuletan dan kesabaran, secara berangsur-angsur masyarakat Kalibeber dan sekitarnya memeluk agama Islam atas kesadaran mereka sendiri. Mereka meninggalkan adat istiadat buruknya seperti berjudi, menyabung ayam, minum khamer dan lain-lain. Karena padepokan santri lama kelamaan tidak mampu menampung arus santri dan terkena banjir Sungai Prupuk, maka kegiatan pesantren dipindahkan ke tempat yang sekarang dinamai Kauman Kalibeber.

Masyarakat yang tinggal di sekitar padepokan baru yang tidak mau secara sukarela memeluk Islam, atas kemauan mereka sendiri banyak yang meninggalkan kampung itu. Daerah selatan pesantren yang semula dihuni oleh Cina akhirnya ditinggalkan penghuninya, dan nama Gang Pecinan sampai sekarang masih dilestarikan. Kyai Muntaha bin Nida Muhammad wafat pada tahun 1860, setelah 28 tahun memimpin pesantren. Beliau digantikan oleh putranya, KH. Abdurrahim bin K. Muntaha.


2. Periode Kedua, KH. Abdurrahim (1860 – 1916)

Mulai tahun 1860, KH. Abdurrahim bin K. Muntaha menerima estafet tugas mulia memimpin pesantren dari ayahandanya. Sejak mudanya beliau telah dipersiapkan untuk meneruskan perjuanan menyiarkan Islam dan memimpin pesantren. Beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren K. Abdullah Jetis Parakan Kabupaten Temanggung, bahkan beliau dijadikan menantunya. Di bawah asuhan KH. Abdurrahim pesantren semakin maju. Beliau masih melestarikan sistem dan materi pendidikan peninggalan ayahandanya. Bertepatan dengan tanggal 3 Syawal 1337 Hijriyah atau 1916 Masehi, KH. Abdurrahim dipanggil Yang Maha Kuasa dan dimakamkan di bekas komplek Pondok Karangsari Ngebrak. Sepeninggal beliau, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya, KH. Asy’ari bin KH. Abdurrahim.


3. Periode Ketiga, KH. Asy’ari (1917 – 1949)

KH. Asy’ari yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Somalangu Kebumen dan Tremas Pacitan, meneruskan kepemimpinan ayahandanya. Pada masa itu Indonesia tengah melahirkan gerakan-gerakan nasional baik yang berdasar agama maapun kebangsaan. Pada tahun-tahun terakhir hidup beliau, Indonesia sedang gigih-gigihnya menentang kedatangan kembali penjajah Belanda, oleh karena itu pesantren mengalami masa surut. Sebagian santrinya ikut dalam gerilya melawan penjajah. Pada aksi polisionil ke II itu, Belanda menyerang wilayah Wonosobo, bahkan samapi desa Dero Ngisor, + 5 km dari desa Kalibeber ke sebelah barat. Sementara itu KH. Asy’ari dalam usia setua itu terpaksa mengungsi ke desa Dero Nduwur + 8 km dari desa Kalibeber. Ternyata Belanda tidak berani meneruskan pengejaran ulama ini sampai ke tempat pengungsian. Dalam pada itu beliau sedang sakit keras yang kemudian wafat dalam pengungsian, dan dimakamkan di sana 13 Zulhijjah 1371 / 1949 M.

Satu hal yang perlu dicatat, bahwa wafatnya KH. Asy’ari telah menyiapkan putra-putranya untuk kaderisasi kepemimpinannya. Seluruh putranya dikirim ke berbagai pondok pesantren. Satu diantara putranya adalah KH. Muntaha bin KH. Asy’ari.

4. Periode Keempat, KH. Muntaha (1949 – 2004)
 
#Riwayat Pendidikan
Beliau dikirim untuk belajar di Madrasah Darul Ma’arif Banjarnegara di bawah asuhan Kyai Fadlullah dari Singapura. Kemudian beliau melanjutkan belajar Tahfidzul Qur’an sampai hafal di Kaliwungu Kendal, di bawah asuhan KH. Utsman. Setelah hafal Al-Qur'an, beliau memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur'an di hadapan Mbah KH. Munawir Krapyak Yogyakarta, dan terakhir di hadapan KH. Dimyati Tremas Jawa Timur.

#Perjuangan Fisik
Pada waktu Indonesia memerlukan putra-putranya terjun ke dalam perjuangan fisik melawan penjajah, KH. Muntaha tidak ketinggalan. Sebelum terbentuknya pasukan Hisbullah, Sabilillah Mujahidin dan lain-lain, beliau telah membentuk dan menjadi Komandan BMT (Barisan Muslim Temanggung), karena saat itu beliau ada di Temanggung. Di sinilah beliau bertemu dengan H. Munawwir Syadzali, MA yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

#Perjuangan Politik
            Tahun 1959, di samping sebagai pejabat pada kantor Departemen Agama Kabupaten Wonosobo, KH. Muntaha diangkat sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia di Bandung, mewakili NU Jawa Tengah. Beliau aktif sampai akhirnya majlis dibubarkan 5 Juli 1959. selanjutnya hampir setiap periode kepengurusan NU Cabang Wonosobo beliau menduduki Syuriyyah dan kemudian Mustasyar.

Setelah NU menyatakan kembali ke Khittah 1926 pada Mu’tamar yang ke-27 di Situbondo Jawa Timur 1984, orientasi politik beliau sengaja direvisi. Dari berbagai pengalaman perjuangan fisik dan politik, akhirnya beliau simpulkan bahwa perjuangan yang relevan dengan tujuan strategis global untuk memajukan ummat Islam dan Li i’laa-i kalimatillah adalah lewat pendidikan dan mempererat kerjasama dengan pemerintah. Hal ini beliau buktikan dengan berbagai aktivitas dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan.

#Perjuangan dalam Pendidikan
Dalam mengelola pondok pesantren yang masih tetap mempertahankan sistem salafiyah, beliau menambah dan mendampingi dengan mendirikan sekolah-sekolah formal. Pada tahun 1960 beliau mendirikan TK / Raudlatul Athfal dan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Kalibeber. Kemudian tahun 1962 didirikan pula Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Ma’arif yang menempati komplek pondok pesantren dan tahun 1967 lembaga pendidikan tersebut dinegerikan, sedang Aliyahnya tahun 1968. setelah 10 tahun menempati komplek pesantren kedua lembaga itu dipindahkan. MTs-nya dipindah ke dusun Ngebrak dan Aliyahnya ke desa Krasak. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di masyarakat, beliau mendirikan Yayasan. Di antara yayasan yang langsung khidmah ummah ialah Yayasan Aswaja Baiturrahim dengan Akte Notaris Nomor 27 tahun 1980, yang kemudian diubah menjadi Yayasan Al-Asy'ariyyah dengan Akte Notaris Nomor 78 tanggal 27 Februari 1989.

5. Periode ke-Lima (sekarang)  KH. ACHMAD FAQIH MUNTAHA


Beliau adalah putra sulung KH.Muntaha Alh dari istri yang bernama Nyai Hj Maiyan jariyah, lahir di Kalibeber pada tanggal 3 Maret 1955. beliau akarb dipanggil dengan Abah Faqih. Beliau mempunyai 5 putra dan 1 putri yaitu ;
1. H. Abdurrohman Al-Asy'ari, Alh, S.H.I
2. H. Khairullah Al-Mujtaba, Alh
3. Siti Marliyah
4. Nuruzzaman
5. Fadlurrohman Al-Faqih
6. Ahmad Isbat Caesar
Putra-putri beliau sudah ada yang menyelesaikan pendidikan baik formal maupun non formal, baik S1 maupun tahfidzul Qur'an dan juga pondok pesantren. Bahkan putra beliau yang pertama dan kedua adalah alumnus Yaman "Ribat ta'lim Khadzral maut" dibawah asuhan Habib Salim As-Satiri

#Riwayat Pendidikan
Beliau menjalani masa kanak-kanak dibawah asuhan langsung dari Almaghfurlah KH. Muntaha Alh. Selain itu beliau juga sekolah formal di SD Kalibeber, sedangkan SMP di Wonosobo yang kemudian melanjutkan di STM juga di wonosobo setelah selesai sekolah formal bilau dikirim untuk belajar di pesantren seperti kebayakan gus-gus yang lain. Pada tahun 1973 beliau nyantri di Pondok pesantren termas Pacitan dibawah asuhan KH. Chabib Dimyati, sampai tahun 1978. kemudian beliau pindah ke Krapyak yang pada waktu itu diasuh oleh beliau KH. Ali Maksum (juga termasuk salah satu teman seperjuangan Simbah Muntaha Alh) selama 1 tahun. Selanjutnya beliau nyantri lagi di Buaran Pekalongan kepada Al-Mukarrom KH. Syafi'I yang juga terkenal sebagai salah satu teman seperjuangan  Al-Maghfurllah Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz. Setelah itu pada tahun 1980 beliau pulang keKalibeber yang dilanjutkan dengan nyantri di kaliwiro kepada seorang kiyai yang terkenal dengan panggilan Mbah Dimyati. 

Belum genap satu tahun beliau kemudian melaksanakan akad nikah dengan salah seorang  santri kalibeber yang bernama Shofiah binti KH Abdul Qodir Cilongok Banyumas, kendati beliau telah melangsungkan pernikahan, namun bukan berarti akhir dalam menuntut ilmu, karena beliau masih tetap nyantri dengan Mbah dimyati di Kaliwiro selama kurang lebih satu tahun. Ketika di kliwiro inilah beliau mendalami kitab-kitab yang besar antaralain : Shoheh Bukhori, Shoheh Muslim, Ihya' Ulummuddin, Tafsir Al-Munir, dan lain-lain. Kemudian beliau mukim membantu perjuangan Ayahanda beliau yaitu Simbah KH. Muntaha Al-Hafidz(Alm). Selama masa nyantri tersebut beliau mempunyai hobi yang sangat unik yang sama dengan hobinya Gus Dur yaitu Ziarah Qubur, beliau juga terkenal sebagai santri yang mempunyai dedikasi dan disiplin yang tinggi dan selalu mentaati peraturan (Qonun) pondok pesantren yang ada walaupun beliau adalah putra seorang Ulama besar yang kharismatik.

#Perjuangan Pendidikan

Setelah pulang dari pesantren (Mukim pada tahun 1980) beliau aktif membantu mengajar di Pondok pesantren milik Ayahandanya dan ikut perkecimpung dalam masyarakat. Waktu itu santri di kalibeber baru sekitar 50 orang putra dan putri dengan prioritas Tahfidzul Qur'an (menghafal A-Qur'an) dan menggunakan sistem salafy.  Pertama kali beliau mengajar pada santrinya yaitu kitab "Burdah" yang bertempat di masjid Baiturrochim. Selain mengajar pada santri beliau juga mengajar Diniyah ba'da dzuhur untuk orang kampung yang waktu itu bertempat di MI Ma'arif. Adapun kitab-kitab yang pernah beliau khatamkan antaralain adalah : Taqrib, Bidayatul Hidayah, Sulamuttaufik, Safinah, dll sedangkan untuk ilmu nahwu diampu oleh teman beliau yaitu Bp H. quraisyin. 

Disamping mengajar, beliau juga ikut aktif dalam mendirikan lembaga-lembaga formal antara lain : SMP, SMA, SMK Takhassus Al-Qur'an dan IIQ (Sekarang UNSIQ). Beliau juga meneruska cita-cita ayahanda beliau yang belum terrealisir diantaranya : SD Takhassus Al-Qur'an, Darul Aitam, Menara Masjid Baiturrochim, dan gedung baru Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah. Beliau juga mendirikan kelas jauh diantaranya adalah : SMA Takhassus  Al-Qur'an di Kepil, SMP + SMA Takhassus Al-Qur'an di Ndero duwur plus Pondok pesantren tanpa pemungutan biaya, Pondok Pesantren + SMA dan SMP Takhassus Al-Qur'an di Kalimantan barat, SMP TAQ Di Majalengka, di Tumiyang Purwokerto, di Buntu Banyumas, serta di Baran Gunung Ambarawa, dan masih banyak lagi. Satu cita-cita beliau yang belum terrealisasi adalah menjadikan Kalibeber sebagai "Semacam Vatikan" di Indonesia. Dimana nanti setiap fatwa dari kalibeber akan di patuhi oleh semua pemeluk islam diseantereo Nusantara.

#Perjuangan Organisasi

Dalam bidang organisasi beliau aktif di Mabarot. Dan selanjutnya aktif di Tanfidziyah Ranting kalibeber, sekretaris MWC Mojotengah. Tercatat mulai Tahun 1996 sampai sekarang beliau aktif sebagai Mustasyar NU cabang Wonosobo. Dulunya Beliau juga aktif dalam partai politik antara lain P3, Golkar dan PKB. Namun demi kemaslahatan umat mulai tahun 2004 hingga sekarang beliau netral. Selain itu beliau juga menjadi salah satu sesepuh di Kalibeber bahkan di Wonosobo beliau termasuk salah satu Kiyai yang paling disegani.